Jejak Artikel Jejak Literasi Nonfiksi WCR

Zakat Itu Ringan yang Berat Itu Nafsu

Zakat adalah potensi ibadah yang tidak tergali secara maksimal di zaman sekarang. Zakat masih berkutat lebih banyak di bulan Ramadan dan tenggelam seiring berjalannya waktu. Zakat lebih bermakna di penutup Ramadan sebagai penyuci harta dan jiwa. Realitas zakat ini tak bisa dipungkiri sekarang.

Padahal zakat bukan hanya sekadar kewajiban, melainkan ia mampu membangun sebuah peradaban yang mulia, mendamaikan suatu bangsa, dan meningkatkan kemaslahatan ummat.

Bagaimana zakat mampu menjadi seperti itu? Jika semua orang tak lagi berpikir bahwa zakat dilakukan tak hanya sekadar menggugurkan kewajiban.

Berzakatlah dan buanglah kalkulasi manusia yang sejatinya begitu kecil keuntungannya. Apa yang seharusnya didapat tidak sebanding dengan apa yang dikeluarkan jika kita lakukan dengan sungguh-sungguh, karena balasan Allah jauh lebih besar perhitungannya dibandingkan perhitungan kita.

Hanya saja kerap kita memilih apa yang tampak di mata, apa yang terasa saat itu, dibandingkan bersabar menunggu apa yang telah dijanjikan Allah.

Balasan Tuhan memang tak terlihat atau tak terasa kala kita mengeluarkan harta, namun janji-Nya pasti. Untuk meyakini ini, maka diperlukan keimanan yang kuat dan kecintaan akan-Nya yang lebih besar daripada kecintaan akan harta dunia.

Banyak ayat yang menyebutkan betapa pentingnya zakat untuk membangun peradaban sekaligus menegakkan syariat agama. Salah satu firman Allah dalam surah Al-Hajj yang artinya, “… dan Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Dalil di atas menegaskan bahwa zakat menjadi salah satu hal vital untuk masuk pada kriteria mendapatkan pertolongan Allah.

Zakat adalah bentuk kepedulian kita kepada kaum muslimin yang membutuhkan. Kepekaan kita pada lingkungan yang di dalamnya ada saudara-saudara seiman yang sedang dalam kesusahan.

Jika zakat merata dilakukan, maka masihkah ada lagi di antara ummat muslimin yang kekurangan?

Tidak. Semua kecukupan akan merata. Tak ada lagi lapar dahaga. Semua akan mampu tersenyum bahagia.

Inilah wujud nyata manfaat zakat. Sungguh betapa pandemi ini sedahsyat apa pun alirannya, pasti lockdown akan cepat berakhir jika semua tangan mampu, bergerak membantu menebar kebaikan, saling topang bahu membahu niscaya kemaslahatan ummat akan tercapai. Negeri makmur.

Maka, siapkah kita untuk berzakat?

Seperti Khadijah istri Rasulullah yang menyerahkan seluruh hartanya, atau seperti Abdurrahman bin Auf r.a sang konglomerat yang merajai perekonomian jazirah Arab di masanya, beliau mengikhlaskan separuh hartanya untuk kepentingan ummat muslim.

Sudahkah kita menjadikan harta sebagai orientasi akhirat?

Membuang segala daya tariknya di dunia. Mengubah tujuan hidup bahwa untuk bahagia hakikatnya adalah keridhaan Allah semata.
Ataukah kita cenderung memilih kehidupan yang dipenuhi gemerlap nafsu akan harta dan tahta lalu takut kehilangan akannya.

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: