Jejak Literasi Tema Bebas WCR

Yuk, Pastikan Orang-Orang di Sekitar Kita Merasakan Indahnya Ramadan dengan Berbagi

Salah satu keberkahan Ramadhan adalah berbagi.

Seperti biasa, untuk menyambut Ramadhan kami, ibu-ibu dharma wanita mengadakan acara Baksos. Sebenarnya lebih tepat saya menyebutnya dengan Bansos yang artinya Bantuan sosial.

Dari sekian banyak orang-orang yang kami berikan bantuan. Ada satu yang membuat hati saya miris, air mata mengalir.

Melihat tempat tinggalnya yang bisa dikatakan tak layak sebagai tempat tinggal. Apalagi untuk seorang anak kecil.

Yah, seorang ibu beserta anaknya yang kira-kira berumur sekitar kelas 3 SD tersebut tinggal di sebuah rumah yang bisa jadi hampir roboh.

Papannya yang berbunyi saat kami menginjakkan kaki ke sana. Takut, jika papan itu tiba-tiba patah dan kami jatuh atau terperosok.

Tapi, itulah yang selalu dilaluinya setiap hari.

Dulu, pertama kali saya melihatnya. Saya pikir ia adalah wanita biasa. Tapi, dari beberapa info yang didengar. Ia adalah wanita yang ‘tidak normal’.

‘Tidak normal’ seperti apa persisnya saya masih tidak bisa memahaminya sepenuhnya.

Yang jelas, di rumahnya yang penuh lubang sana sini itulah. Ia tinggal dan merawat anaknya.

Anaknya yang selalu mengikutinya ke sana ke mari. Ke mana pun ia berjalan. Yah, berjalan kaki.

Pernah suatu hari, saat saya mengantar si Aa sekolah. Saya menemukan ia berdiri di pinggir jalan dekat pos ronda. Melihat mobil saya, ia bergegas menepi, menarik lengan anaknya. Wajahnya nampak ketakutan.

Kisah punya kisah, ternyata ia selalu seperti itu saat sebuah kendaraan mendekatinya.

Ia terkenal tak pernah sekali pun bersuara. Mungkin seperti Limbad, yang selalu memilih diam dalam setiap penampilannya. Tapi, ia wanita biasa. Tanpa kekuatan supranatural apapun.

Mendengar kisahnya, saya semakin penasaran.
Berbagai pertanyaan saya ajukan, tapi jawabannya masih tak bisa memuaskan hasrat keingintahuan saya.

Apa sebab ia seperti itu.
Namun, melihat senyumnya tatkala sebungkus merah sembako yang kami serahkan ke tangannya, tak bisa membendung tetesan haru.

Ia tersenyum, itu sudah menjadi kepuasan tersendiri untuk tahap awal mendekatinya.

Semoga semakin banyak tangan-tangan ringan membantunya. Apa pun yang terjadi dengannya, saya rasa uluran tangan ikhlas, ajakan mengobrol ringan dengannya mampu memberikan energi positif untuknya.

Jangankan orang seperti ia. Orang yang jelas dikatakan normal saja. Jika menjalani rutinitas yang sama setiap hari kadang mengalami stres yang menekan beban pikiran hingga perlu tempat curhat.

Apalagi seperti wanita itu. Saya tak bisa membayangkan pendidikan seperti apa yang diterima oleh anaknya. Miris, sedih, dan ungkapan lain yang tak mampu dikatakan.

Kini hanya bait doa untuknya, semoga hari-harinya menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

***

JEJAKME MENGUCAPKAN, “SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN DAN MOHON MAAF LAHIR BATHIN.”

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: