Uncategorized

Who Am I

Who Am I

“Di mana aku?” Ruangan putih ini terasa asing sekali. Berbagai pertanyaan mendabak dalam hatiku. “Apa yang terjadi dan kenapa ini? Uh… uh… kepalaku….”

“Tuan George, Anda sudah sadar?” Seorang wanita berambut ikal sebahu menghampiriku.

George? Siapa? Aku?

Ah, kenapa kepalaku sangat berdenyut. Kenapa aku tidak mengingat sama sekali, apa yang terjadi dan … kenapa aku lupa namaku sendiri? Apakah George itu namaku? Dan siapa wanita ini?

“Tuan! Silahkan makan dulu, setelah ini baru Anda bisa minum obat.”

“Kamu siapa?” Rasa penasaranku semakin bercokol.

“Maaf, Tuan. Saya harus pamit.” Wanita itu tampak ketakutan dan seperti menyembunyikan sesuatu. Ia bergegas pergi, keluar dari ruanganku berada.

Kupandangi nampan berisi sup hangat, segelas susu, dan sepiring buah yang telah dipotong-potong lengkap dengan garpu dan sendok. Perlahan kusuap sepotong demi sepotong apel dan pir yang ada.

“Oh, hai, George! Bagaimana kabarmu?” Seorang laki-laki berambut pirang datang, mengejutkanku yang sedang meminum susu.

Uhuk!

“Oh, maaf, George. Bukan maksudku membuatmu tersedak. Aku hanya ingin melihat keadaanmu, barusan Theresa mengabariku bahwa kau telah siuman.”

Oh, wanita tadi bernama Theresa. Lantas siapa lelaki ini? Aku mengernyitkan dahi. Kutelusuri wajah tirusnya, hidung mancung dan matanya yang biru.

“Ada apa, George?” Senyumnya membuatku akhirnya mengajukan pertanyaan.

“Siapa George? Aku?” Lelaki itu mengangguk. “Lalu, siapa kau?”

“Aku Steve, teman seperjuanganmu.”

Sahabat? Aku mencoba meraba memoriku yang tersisa. Nihil. Aku bagai orang terburuk di dunia. Jangankan mengingat siapa dan di mana. Bahkan untuk jati diriku sendiri, aku lupa.

“Kau sudah minum obat?” tanya lelaki bernama Steve itu seraya memegang sebotol obat yang aku pun tak tahu apa itu. “Ini obat yang diresepkan dr. Edward. Dengan ini kau akan segera pulih dan bisa melanjutkan perjuangan kita yang hampir berhasil.”

“Perjuangan apa?” Kepalaku semakin berdenyut.

“Sebelum terjatuh dari kudamu, kau adalah pemimpin pasukan merah yang berjuang memerdekakan kelompok kita untuk menguasai daerah pesisir barat Indonesia.”

Sehebat itukah aku. Pemimpin pasukan perjuangan.

“Kau hampir berhasil mengalahkan Radin Inten, sayang saat itu kau terjatuh dari kudamu dan mengalami luka parah. Syukurnya kami berhasil membawamu kabur dan di sinilah kau sekarang?” Steve berpanjang lebar menjelaskan semua. Hanya saja, entah kenapa aku merasa tak kenal dekat dengannya.

Dan Radin Inten? Sepertinya aku pernah mengenal namanya ataukah hanya mendengarnya dari Steve.

Setelah berbasa basi lagi sebentar. Steve meninggalkanku sendiri. Kebosanan dan kebingungan melanda, kuberjalan perlahan ke taman belakang bangunan ini. Ada kebun bunga yang sangat indah di sini. Tampak para pekerja sedang merapikan dan memotong tanaman. Mereka tak acuh dengan kehadiranku.

Agak lama ku di sana. Saat hendak beranjak kembali ke dalam, kurasakan ada yang menarik tanganku kuat dan membekap mulutku. Aku kembali tak sadarkan diri.

***

“Di mana aku?” Kembali keheranan ini menyusup di retinaku. Tempat yang terasa asing, namun terasa sangat adem dan nyaman. Berbeda dari tempat sebelumnya.

Dan mereka yang berdiri berjejer menyaksikanku tersadar, tersenyum sangay tulus kelihatannya. Satu lagi, mereka bukan orang sepertiku. Mereka asli Indonesia.

Apakah aku menjadi sandera? Pikiranku semakin kacau.

“Selamat datang kembali, wahai Way Uran.”

Siapa lagi Way Uran. Bukankah tadi namaku George?

Mereka tersenyum kembali.

“Namaku Minak Raja. Kau ingat? Ah, mungkin kau masih lupa. Kau pasti bingung. Kami tahu itu. Ketahuilah, bahwa sejak kecil kau telah dibesarkan oleh Radin Imba. Dan saat ini kau dinobatkan menjadi pemimpin perjuangan pasukan putih. Mereka telah menculikmu untuk mencuci otakmu agar memberontak kepada Indonesia. Mereka ingin memanfaatkan garis keturunan yang mengalir kepadamu, namun ketahuilah jauh di dalam hatimu, kau adalah pejuang Indonesia.”

Sedikit demi sedikit memoriku mulai menjalin informasi. Satu per satu bayang demi bayang hadir. Yah, aku ingat sekarang.

“Selamat datang kembali saudaraku, aku Radin Inten.” Lelaki berkumis itu menyapaku ramah.

Ia mendekat dan memelukku erat. Ingatanku telah kembali, kurangkul erat juga tubuhnya dan…

“Kau?” Radin Inten menatapku tajam. Matanya melotot seakan hendak menelanku bulat-bulat.

Aku ingat. Aku adalah pasukan khusus yang sengaja diselundupkan ke dalam ranah juang mereka. Menjadi bagian keluarga dan akhirnya menghabisi mereka satu per satu seperti rayap.

Jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: