Jejak Artikel Jejak Info Jejak Literasi Nonfiksi

Tips Menulis dalam Sekelumit Kisah Buya Hamka Saat Berkarya

Bismillahirrahmaanirraahiim

Pencinta sastra pasti kenal Hamka. Banyak karya-karya fenomenal beliau melegenda hingga sekarang. Di antaranya ; Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Vander Wick, Tasawuf Modern, dan Tafsir Al-Azhar.

Seorang ulama, satrawan, penulis dan bahkan beliau pernah menjabat sebagai ketua MUI di Indonesia angkatan pertama. Sungguh beliau adalah tokoh kharismatik dan bersahaja.

Banyak yang dapat kita ambil pelajaran dari beliau. Baik dalam berkarya maupun dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan tantangan.

Ada sebuah karya anak beliau Rusydi Hamka namanya, dalam bukunya berjudul “Pribadi dan Martabat Buya Hamka”. Di dalam buku itu diceritakan tentang kepribadian beliau termasuk bagaimana beliau mengikat ide untuk menghasilkan sebuah karya.

Pertama dan utama adalah seorang penulis memang tidak boleh lepas dari hobi membaca karena salah satu sumber inspirasi adalah membaca.

Ke dua cepat menangkap ilham, mengoptimalkan kepekaan. Baik kepekaan melihat, mendengar dan merasakan.

Pernah beliau bertanya kepada anak beliau perihal laporan perjalanannya dari Jepang. Dia ingin menulis tentang perkembangan Islam di negara Jepang, tapi laporan itu tak jua kunjung selesai. Padahal buku-buku yang berkaitan dengan yang akan ditulis sudah dikumpulkan dan sudah berhari-hari di telaah. Kemudian buya Hamka memberikan masukan.

“Mengaranglah dulu dengan ilham. Tulis apa yang kau lihat, alami dan rasakan, baru kemudian lengkapi dengan bacaan. Kalau terlalu lama memulai, kau akan lupa dengan kesan-kesan perjalanan itu. Dan bila terlalu menggantung pada buku, laporanmu itu tidak hidup nantinya.”

Ke tiga memanfaatkan waktu pagi untuk memulai menulis.

Rutinitas beliau di pagi hari adalah membaca Alquran, membaca surat kabar kemudian sarapan. Tak lama setelah itu beliau nendatangi mesin tik dan memulai mengetik, mencurahkan ide-ide yang berkelebat di pikiran, dan di ingatan.

Ke empat berkarya dengan konsisten.

Solid dan konsisten adalah sebuah pilihan dan jalan hidup yang sudah beliau dedikasikan untuk ummat. Salah satu sarana dakwah beliau adalah dengan menulis.

Ketika beliau sudah menetapkan jam kerja untuk mengarang atau menulis. Maka beliau begitu konsisten. Sampai batas waktu yang sudah beliau tentukan sendiri.

Hal ini diceritakan bahwa ketika jam pagi, antara jam 7 sampai jam 9 pagi walaupun ada tamu bertandang ke rumah, beliau tetap melanjutkan menulis. Setelah menyapa ramah dan memberikan senyuman si tamu pun adipersilahkan amenunggu.

Demikian beberapa hal yang dapat saya simpulkan. Bagaimana Buya Hamka ketika ingin memulai tulisan.

Beliau juga memiliki daya ingat yang kuat, kemampuan menangkap ide dengan cepat.

Selain kecerdasan, yang mendukung beliau sebagai seorang penulis adalah berhati lembut karena banyak keadaan diceritakan beliau orang yang sangat mudah terenyuh.

Menghasilkan buah karya yang banyak dengan logat bahasa yang bijak. Seolah menggambarkan sosok yang bersahaja ini begitu banyak menghadapi cobaan-cobaan hidup. Semoga Allah merahmatinya dan karya-karya beliau hingga hari ini yang dapat memberikan manfaat untuk kita. In syaa Allah merupakan sebuah amal yang pahalanya terus mengalir. Aamiin.

jejakme/rusminiummuhuwaida

0Shares
%d blogger menyukai ini: