Fiksi Jejak Literasi

Yuk, Tersenyum Bersama Pasangan di Rumah dengan Membaca Cerpen Romantis : TENG EN LOPU

“7 Shinobi pengguna kekuatan sel Hashirama, inikah kekuatan baru Naruto.”

Kubaca berulang kali judul artikel itu. Tetap aku yang sejatinya bukan penggila anime ini berkerut dahi. Kucoba pahami isinya. Gagal.

“Kok, manyun? Kenapa?” Mas Rafli tiba-tiba datang dan duduk di sampingku.

“Nggak apa-apa, Mas?” Bohongku. Padahal aslinya kepalaku mumet memikirkan cerita apa hari ini.

“Sudah makan, Cin?”

Ah, Mas Rafli memang sangat perhatian. Tahu saja istrinya belum makan sesuap nasi pun. Sejak jam delapan tadi, aku telah izin kepadanya untuk berkutat di depan laptop. Hingga siang, mungkin dilihatnya aku tak juga beranjak. Beginilah asyiknya punya suami yang pandai masak. Saat hari libur, sudah kesepakatan bersama–jika Mas Rafli tak ada lembur, maka dia yang memasak. Aku? Tugasnya makan dan cuci piring. So simple.

Pernah suatu kali, kami jalan ke pasar. Karena aku sedang menyusui si kecil di dalam mobil, jadilah Mas Rafli yang turun untuk belanja. Tahukan bagaimana repotnya belanja? Dan itu dilakukan Mas Rafli dengan tulus.

Ketika tiba di mobil kembali, Mas Rafli bercerita.

“Cin, tadi Mas ketemu sama Pak Edo. Katanya, ‘kenapa Mas yang belanja? Mana istrinya?’ Mas jawab aja, ‘ada di mobil, Pak. Lagi jaga si kecil,” kata Mas Rafli sambil memasang sabuk pengamannya.

“Terus?”

“Ya, nggak ada terusnya. Mas langsung balik ke mobil.”

Aku merasa tak enak hati dengannya. Apakah harga diri Mas Rafli jatuh karena itu? Nyatanya Mas Rafli malah menghiburku.

“Sudah sepantasnya, Mas bantu Cinta. Kalau bukan Mas, terus Cinta minta tolong siapa?” Aku mengangguk dan memeluk lengannya.

Ah, Mas Rafli. Sungguh, apa yang kau lakukan tak lah merendahkan harga dirimu sebagai lelaki. Seperti yang kadang mereka pikirkan. Justru aku semakin menghormatimu sebagai lelaki yang patut kuteladani.

“Ayo, makan!” Suara Mas Rafli menyeretku kembali ke masa kini.

Sepiring sop hangat lengkap dengan jeruk nipis dan sambal tersaji apik di hadapanku. Baunya menguar masuk ke hidung. Hmm… pasti sangat lezat rasanya.

“Mau Mas suapin atau suap sendiri?” tawar Mas Rafli sambil mengaduk sop agar tak terlalu panas.

Aku tersenyum manja. “Boleh, kalau Mas nggak keberatan,” jawabku.

Siapa, sih, yang tak mau disuapin? Dimanja suami saat sang istri sedang sibuk. Terus pekerjaan aku sebagai istri apa?

Kadang banyak suara sumbang di luar sana yang sampai ke telingaku.

“Enak, ya, jadi istri Pak Edo. Tinggal ongkang kaki, makanan dah siap di meja.”

Kalau mau menuruti bisikan nafsu dan setan, aku bakalan marah. Ngapain coba ngurusin rumah tangga orang. Tapi, akhirnya aku menutup rapat mulut dan telinga. Orang begitu karena mereka kan nggak tahu, nggak paham, nggak mengerti.

Terkadang prasangka baik atau mengabaikan godaan buruk itu jauh lebih lapang perasaan, dibanding membebani pikiran dengan sangka-sangka yang jawabannya hanya membuat rasa tak karuan.

Rumah tangga adalah keseimbangan, saling melengkapi. Dan itulah yang aku dan Mas Rafli lakukan.

Mas Rafli suka masak, pas sekali dengan aku yang lebih memilih menyuci mobil ketimbang masak.

Pernah tetanggaku berkata kepada Mas Rafli. “Kok, yang nyuci mobil ibunya, Pak?”

Mas Rafli menceritakannya kepadaku dan ia merasa tak nyaman.

“Mas, nggak usah dengarkan apa kata tetangga. Bukankah kita saling melengkapi. Cinta suka nyuci mobil, Mas suka masak. Terus apa salahnya? Apa kita membuat tetangga dan oranglain rugi? Nggak kan? Asal Mas ridha sama. Cincin, kenapa tidak?” kataku panjang penuh tanya dan penekanan.

Sejak itu, kami tak acuh dengan omongan orang. Ini rumah tangga kami. Aku dan Mas Rafli yang berada di dalamnya. Membangun semua dari nol. Tahu apa yang lebih dan kurang. Saling melengkapi nyatanya lebih baik daripada saling menuntut dan berharap sempurna seperti orang lain.

Nyatanya hidup dengan Mas Rafli aku bahagia. Mencintai semua kekurangan jauh lebih indah, dibanding mencintai karena kelebihan. Iya kan?

“Cin, mau makan nggak?” Mas Rafli kembali mengagetkanku, sesendok sop hangat sudah di depan mulutku. Dan….

Hup! Suapan pertama.

“Mas, supnya enak,” pujiku.

Mas Rafli tersenyum, “masa, sih, Cin?”

“Iya, apalagi kalau makannya disuapin gini, rasanya tambah lezat.”

“Dasar gombal.” Mas Rafli memencet hidungku.

Kami tertawa bersama dan bergantian saling suap. Kutinggalkan laptop sementara. Biarkanlah sel hashirama tak kupahami. Yang jelas aku memahami satu hal, mencintai dengan tulus dan apa adanya itu jauh lebih indah.

Thank you, Mas Rafli. Love you.

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: