Fiksi Jejak Literasi

SANDAL UNTUK MUS

::SANDAL UNTUK MUS::
Walidah Ariyani


“Aw!”


“Kenapa, Nduk?” Seorang lelaki tua tampak tergopoh menghampiri asal suara. Setibanya di sana, dilihatnya Mus—anak satu-satunya duduk selonjoran di tanah.

“Kaki Mus, Pak. Sakit.” Mus—bocah 8 tahun tampak meringis memegang kakinya.

Lelaki itu tampak mencari sesuatu. “Sini Bapak obati! Sandal Mus ke mana?”

“Enggak Mus bawa. Tadi putus di ujung jalan dekat pohon rambutan besar.

Lelaki itu mengangguk. Sandal jepit itu pasti benar-benar tak bisa lagi digunakan. Ia bahkan lupa berapa kali sudah mengikat ujung tali karetnya agar bisa dikenakan. Belum lagi bagian tumitnya yang berlubang. Pantas saja kaki anaknya sakit. Pohon rambutan itu hanya satu dan letaknya tiga kilometer dari rumahnya. Mus berjalan tanpa alas kaki dan harus melewati jalan yang berbatu-batu tajam. Di tengah terik seperti ini, pasti batu-batu itu pun memanas. Lengkap sudah kulit kaki Mus tersiksa. Dilihatnya beberapa titik telapak kakinya berdarah. Mungkin tertusuk batu kecil yang ujungnya tajam. Lelaki itu hanya sanggup menarik kuat napasnya. Hatinya meringis.

“Maafkan Bapak, ya, Nduk! Karena Bapak, Mus harus seperti ini.”

“Enggak apa-apa, Pak. Kalau berasnya tidak diambil hari ini, nanti kita enggak dapat jatah lagi.”

Sungguh, kadang lelaki tua itu antara malu dan bersyukur. Malu akan ketidakberdayaannya dan bersyukur betapa Tuhan memberikannya anak yang luar biasa. Di usianya yang sepertujuh lebih muda, nyatanya keadaan hidup membuatnya lebih dewasa.

Hari ini, ia terpaksa di rumah. Dari malam ia tak bisa bangun, pinggangnya sakit luar biasa. Apa sakit ginjal atau entah apa yang bersarang di tubuhnya. Orang sepertinya hanya mampu merasakan sakit tanpa dapat berangan pergi untuk memeriksakan diri. Menjalani hari dengan menerima apa yang ada sekarang, itulah satu-satunya pilihan yang bisa ia lakukan. Jatah beras miskin harus diambil jika tidak ingin kehilangan kesempatan mendapat beras gratis. Beras gratis artinya kehidupannya beberapa hari ke depan terjamin. Ia hanya perlu memikirkan mencari uang untuk keperluan selain beras. Itu pun jika ada rezeki yang ia peroleh.

Ketika mendengar suara Mus kesakitan, rasanya sakit yang dideritanya menguap begitu saja. Tak dihirau lagi pinggangnya yang berteriak merintih. Mus lebih penting baginya.

“Sudah selesai. Mus baring di sini dulu, biar Bapak masakkan nasi.” Lelaki itu beranjak perlahan.

Sepotong daging kecil di tubuhnya terasa jauh lebih sakit. Bergegas tangannya mengusap ujung mata yang hampir luruh. Ia tak boleh menangis. Ia harus mengajarkan ketegaran untuk Mus.

Mus melihat sejenak kakinya lalu beralih ke lelaki tua yang sudah berdiri hendak ke dapur. “Bapak sudah sehat?”

Lelaki itu menolehkan kepalanya seraya tersenyum. “Sudah. Bapak sehat. Mus tidur dulu, ya!”


“Bapak lagi apa?” tanya Mus seraya mengucek matanya. Sebenarnya ia masih mengantuk, hanya saja suara-suara di belakang rumah kardusnya yang hanya 2×3 meter itu lebih menarik perhatian.

“Ini! Mus coba, ya.” Lelaki itu semringah dan menyodorkan sepasang sandal.

Mus mengernyit. “Kenapa? Mus enggak suka?”

“Suka, Pak. Sandalnya lucu hihi….”

Permukaannya kasar. Jika dikenakan oleh Mus sekarang, pasti ujung serabutnya akan menusuk luka di telapak kaki Mus dan itu pasti sakit.

“Syukurlah. Ayo, coba!” Lelaki itu memasukkan ujung kaki Mus perlahan ke sandal yang ia pegang.

“Ini belum Bapak ukur. Kebesaran, ya?”

“Enggak apa-apa, Pak. Mus senang.” Senyum Mus meluruhkan segala penat yang lelaki itu rasakan.

Maafkan Bapak, Nak. Sampai saat ini, bahkan sekadar sandal jepit Bapak tak mampu membelikanmu,” batin lelaki itu menangis.

“Nanti kalau kaki Mus sembuh, Mus boleh mengenakan sandal ini, Pak?” tanya Mus penuh binar harapan.

“Boleh. Inikan untuk, Mus.”

Lelaki itu menatap sandal jepit di tangan Mus. Sandal yang ia buat dari serabut kelapa yang ditemukannya di tempat sampah. Sederhana. Namun, hal itu mampu mengundang bahagia untuknya dan Mus. Yah, kadang bahagia itu sederhana. Hanya kadang manusia membuatnya tampak begitu sulit.

Kalimantan Barat, 5 Desember 2020

Jejakme.com/walidahariyani

0Shares

(1) Komentar

  1. […] Klik di sini! Contoh dialog tag pada cerpen […]

%d blogger menyukai ini: