Jejak Literasi Tema Ditentukan WCR

Sahur Pertamaku Dibangunkan Baby Berusia Dua Bulan

Ramadan kali ini terasa berbeda. Bukan hanya karena faktor pandemi yang entah kapan akan berakhir, tapi juga adanya anggota baru dan lingkungan tempat tinggal yang baru.

Ya, Desember kemarin suami mendapat mutasi kerja ke tempat baru. Di mana perumahan tempat kami tinggal berbeda jauh dengan perumahan yang dulu.

Di tempat kerja baru suami, jarak antar rumah lumayan jauh dan memang dikhususkan perumahan karpim (karyawan pimpinan) yang kebanyakannya hanya ditempati oleh bapak-bapak yang bekerja saja. Sedangkan anak istri tidak turut serta karena menetap di rumah sendiri.

Aku? Tentu saja masih ikut ke mana pun suami kerja, karena anak-anak yang masih kecil dan lagi aku tak terikat kerja di suatu tempat.

Kenangan aura Ramadan di tempat dulu masih terasa sampai sekarang. Anak-anak ramai mengaji di mushala, serunya membuat menu berbuka dan berbuka bersama di mushala yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah, dilanjut membangunkan sahur secara bergantian.

Rona Ramadan begitu terasa warnanya. Kini, pandemi dan tempat baru membuat semua begitu berbeda. Tak ada lagi sahut-sahutan orang membangunkan sahur. Hanya informasi sahur sebentar, selebihnya hanyalah sepi.

Tak ada yang istimewa dengan menu sahur pertama. Sama seperti hari-hari lainnya. Bedanya aku harus makan menu dengan amunisi yang bisa menambah volume ASI. Kenapa?

Karena aku harus memastikan ketersediaan ASI untuk satu hari penuh buat si baby.

Siapa yang membangunkanku sahur? Tentu saja di baby yang matanya cemerlang di dini hari. Ah, ia ikut sahur pertama bersama kami.

“Selamat menjalani Ramadan di kehidupan barumu, Sayang.”

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: