Jejak Literasi Puisi Tema Bebas WCR

Puisi Walidah Ariyani ; Rinduku Menjeri Berskala

Aku tak tahu seberapa kuat bisa bertahan.
Sendiri berjalan menopang tangan dan kaki yang sejatinya kian lemah.
Hati ketar-ketir entah berapa banyak gemetar melingkupi.
Aku tak bisa sendiri. Sungguh.
Hanya rasa takutku pada-Nya yang membuat aku tampak kuat. Mandiri.

Aku tak ingin Dia mencap cinta ini begitu besar kepadamu dibanding kepada-Nya.
Walau aku kerap tertawa memikirkannya.
Ah, mana bisa bersembunyi dari sebuah rasa di hadapan Tuhan.
Bahkan yang terselip seujung rambut bahkan hal paling kecil sekalipun.
Tuhan jelas akan tahu.
Tapi, tetap saja aku terus berusaha menahan sesak ini.
Airmata agar linangannya tak membanjiri wajahku.
Bahkan bernapas begitu sulit.
Makan dan minum terasa duri.

Entah seberapa kuat aku menahan.
Kerinduan ini benar-benar menyiksa.
Aku ingin menggapai.
Mengelus pipimu.
Menggenggam tanganmu.

Kau ingat saat aku melahirkan keempat buah hati kita?
Betapa tanganmu satu-satunya sumber kekuatanku.
Bukan obat pereda nyeri.
Bukan hiburan para nakes dan dokter.
Tapi, kehangatan dari tanganmulah yang membuat bibirku berlafadz kalam.
Sakit tanpa keluh dan teriak.
Melahirkan itu sakit luar biasa.
Tapi kubertahan. Setiap kumeringis menahannya, kau pun turut meringis.
Menahan ngilu dan kelu dari tangan yang kugenggam erat.
Erat seerat-eratnya.
Ku bahkan berani berkata jika tangan itu bukan buatan Sang Pencipta,
niscaya kan lebur atau pun retak.
Bisa terbayang kan betapa kuatnya remasan itu?

Tuhan Maha Sempurna.
Ya, aku meyakini demikian.
Dia mengirimkanmu untukku.
Menyediakan tanganmu untuk kubertahan.
Lalu kini, kala kulimbung aku benar-benar terjatuh.
Kugapai sekuat tenaga mencari tanganmu, tak ada.
Bagaimana bisa kutempuh 1500 kilo dalam sekejap?
Antara Kaltim dan Kalbar rentangannya tak sedekat lembaran peta.
Ada skala yang membuatku meneguk liur yang kian pahit.

Kutertawa dan tersenyum pada siapa yang ditemui.
Emoji-emoji penuh semangat dan kebahagiaan kualirkan di setiap chat pada siapa saja.
Walau konon di dalam sekeping hati ada rintihan yang tak mampu kusembunyikan.

Aku tak ingin menangis. Sungguh, tak ingin.
Aku tak ingin mengeluh.
Sungguh, tak ingin.
Hanya entah darimana, mendadak hati menjeri lalu basah merayapi seketika pelupuk mata.
Mengalir deras di pipi dan dadaku kembali sesak.
Kueratkan remasan tangan.
Menyentuh dada yang kian nyeri. Sakit.
Beginikah sakit karena rindu?
Aku takut. Takut rasa ini melebihi rinduku pada-Nya.
Aku takut cinta ini melebihi cinta pada-Nya.
Lalu kembali kuberingsut bahwa aku benar-benar lemah.
Iman yang berfluktuasi dan kerinduan yang menyakitkan ini adalah rindu tanpa penawar.
Maka kupanjatkan segala doa.
Kutitipkan pada kicau burung dan embun pagi.
Juga tupai yang melompat dari pohon ke pohon.
Pun kepada kucing-kucing yang kerap meminta makan.
Lalu kusambungkan surah pembuka kepada Sang Rahman.
“Hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.
Izinkan kami bersama lagi.
Merengkuh suka duka dalam naungan-Mu.”

Samuntai, Friday, 12 June 2020

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: