Jejak Literasi Puisi Tema Bebas WCR

Puisi Walidah Ariyani : Renjana Takbir

Aku rindu pada teriakan takbir
Rombongan anak-anak membawa obor
Berkeliling kampung dan berteriak

“Allaahu akbar … allaahu akbar … allaahu akbar
Laa ilaa ha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd”

Berulang
Beriringan sembari menabuh beduk yang dibawa dengan pick up

Teriakan menggema menggetarkan langit dan jiwa-jiwa mati
Tak acuh walau kuyup menyaput tubuh

Api menari gemulai
Beradu dengan basah yang kian deras
Seolah berkata menantang hujan
“Aku tak akan padam walau hujan menerpa”

Ah, lihat!
Api-api itu mati satu per satu
Tapi …
Lihat!
Bukan!
Dengar!
Teriakan itu masih ada

“Allaahu akbar … allaahu akbar … allaahu akbar
Laa ilaa ha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd”

“Allaahu akbar … allaahu akbar … allaahu akbar
Laa ilaa ha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd”

Sesaat aku menepi
Menyaput basah di pelipis
Memandang jalanan sunyi
Tanpa obor dan teriak riuh

Anak-anak harus di rumah
Remaja harus di rumah
Orangtua harus di rumah
Pun semua

Takbir di rumah
Bersama dinding kayu
Bersama tangis bayi
Bersama keluarga kecil
Atau bersama sunyi di lorong-lorong rumah sakit

Sejenak waktu terhenti
Pada hal yang biasa
Berganti hal baru pengundang akhir zaman

Aku rindu pada teriakan takbir
Rombongan anak-anak membawa obor
Berkeliling kampung dan berteriak takbir

Sayang
Hanya sebatas rindu
Penawar tak kunjung
Takbir berganti letupan
Kembang api merona
Membingkai gerimis pada hati yang menangis

(Samuntai, 22 Mei 2020)

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: