Jejak Literasi Puisi Tema Ditentukan WCR

Puisi Walidah Ariyani ; Jembatan Cahaya

Setiap tahun, Ramadan selalu memberikan perbedaan rasa. Namun, kali ini rasa itu begitu mengiris dan meringis.

Mengingat uma abah di kampung.
Kulit mereka melegam sedang rambut mentembaga.
Sesak dalam lesak mimpi membayangkan setiap bulir peluh mereka.
Menetes setetes demi setetes.

Uma abah.
Tahun ini aku tak pulang.
Bukan karena aku tak rindu.
Bukan karena rindumu uma abah tak ingin kuobati.
Bukan pula karena jarak ini.

Sungguh uma abah.
Seberapa jauh jarak membentang, aku siap menempuhnya untukmu.
Aku siap terbang mengepak sayap.
Berenang menyeberang.
Melebur bersama asap jalanan.

Kali ini nyata Ramadan begitu pilu.
Aku terdampar di tempat asing yang kuanggap tanah kedua.
Orang-orang yang mulanya asing menjadi kerabat.
Tetap saja tanah lahir tempatku tumbuh memberi aroma rindu.
Rasanya menguar menari di bilik hati.

Tahun ini ada sekat pembatas di antara kita.
Bisa saja aku menembusnya lalu membiarkanku terpapar karenanya.

Entah di mana saja.
Bisa di mana saja.
Entah kapan saja.
Bisa kapan saja.
Entah dengan siapa.
Bisa dengan siapa saja.

Rinduku menggenang bagai sungai dahaga.
Tak ingin jumawa kuberkutat mengantar rasa.
Lalu membiarkanmu uma abah menderita.

Mudik nyatanya kini menjadi cara mahal untuk menempuhnya.
Aku tahu masih bisa menempuh dengan surat urgensi atau surat-surat lainnya.
Sayang, bukan begitu caraku menenun rindu.
Lalu
Izinkanku merenda khayal.
Akan jembatan cahaya pengantar rasa.

Maafkan aku, anakmu dengan segudang rindu.
Jangan hantarkan tangis kepadaku.
Betapa ngilu telinga mendengar menjalar ke dasar kalbu.

Uma abah doamu yang utama
Di tanah seberang aku bersimpuh.
Pada pundak pengharapan dan selaksa ratap.
Izinkanku tak pulang kali ini.
Demi kita semua.

Kelak.
Akan ada masa kita melebur rindu.
Mendekap syahdu.
Mengikis pilu.

Uma abah gempita fitri kita rayakan pasti bersama.
Walau tak satu wadah.
Kau di sana aku di sini.
Merengkuh rekahan senyum.
Menepis luka.

Terik sahara kan berlalu.
Telaga bening telah menunggu.
Dimulai dari rindu.
Yang kini kulebur bersama pilu.

Samuntai, 9 Mei 2020

jejakme/walidahariyani

0Shares

(1) Komentar

  1. […] 📌https://jejakme.com/puisi-walidah-ariyani-jembatan-rindu/ […]

%d blogger menyukai ini: