Jejak Artikel Jejak Literasi Puisi Tema Bebas WCR

Puisi Personifikasi : Merindu Hujan

Tak bisa lagi kubertanya pada rumput yang menari
Bahkan helai dan akarnya meratap mati
Mentari terus menyergap kulitku
Bahkan angin malam menyiksa dada.

Ke mana lagi aku bertanya?
Bilakah hujan datang berkunjung?
Sedang daun menari berjatuhan.
Menginjak tanah yang tak bisa protes.

Sesekali kulihat awan murung.
Namun, angin mengusirnya pergi
Bilakah dapat kuberjumpa?
Pada rintiknya yang menyejukkan hati.

Berhari-hari hanya lirih angin yang terus berbisik.
Memetik daun satu per satu
Panas terus meminum sumber air
Sumur menangis kering
Tanah merana sepi
Dan hujan tiada memberi kabar berita.

(Longkali, 14 September 2018)

Puisi ini adalah puisi yang diRepost dari akun wattpadku yang telah mati suri.

Berbicara tentang puisi personifikasi. Sebagian penyair mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada istilah puisi personifikasi, karena pada dasarnya personifikasi itu adalah salah satu majas untuk membentuk perwajahan puisi. Nah, sebagian lagi mengatakan bahwa ini adalah puisi personifikasi.

Jadi, apa pun itu yang penting terus menulis dan berkarya. Nikmatilah sajian puisi ini bait demi bait. Bahkan ada yang bilang jika puisi saya in mengingatkan ia pada karya sang master puisi Bapak Sapardi Djoko Damono.

Eh, Ngomong-ngomong Bapak Sapardi, saya punya satu buku puisi yang sebuku dengan beliau judulnya Menenun Rinai Hujan

Alhamdulillah bisa bersama menulis dengan orang-orang keren lainnya.

Salam literasi

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: