Fiksi Jejak Literasi

PPD

Cerpen by Walidah Ariyani

“Pa, aku sudah tak tahan. Kita harus segera pindah.” Ningsih merayu suaminya entah sudah yang ke berapa.

“Iya, Ma. Aku paham, tapi pindah rumah itu artinya pindah kerja. Dan itu tak mudah, Ma.” Danu mengulang jawaban yang sama atas pertanyaan yang sama pula.

“Kau tak mengerti, Pa. Sampai saat ini pun.” Ningsih mulai terisak. Lagi.

Sudah berapa mili, mungkin liter saking banyaknya airmata yang Ningsih keluarkan selama enam bulan terakhir. Ia ketakutan, cemas, stres, bahkan hampir putus asa. Namun, Danu tak pernah mau menuruti keinginannya.

Selama ini Ningsih tak pernah meminta apa pun dari Danu. Sebisa mungkin ia atasi masalah sendiri. Menutupi segala kekurangan sendiri. Termasuk kepulan asap di rumahnya. Danu hanya tahu semua beres, semua aman. Namun, tidak untuk kali ini. Di antara sekian banyak pertahanan dan kesabaran yang Ningsih miliki, kini semua luruh. Ia tak mampu lagi bertahan. Ia menyerah. Ia berharap di saat semua itu dirasakannya, Danu menolongnya. Terlepas dari ia tak pernah meminta apa pun, minimal karena Danu adalah suaminya. Bukankah tugas suami melindungi istrinya?

Ningsih terisak berkali-kali. Ia menyaput ingus yang terus keluar. Dadanya kini terasa sesak. Udara terasa sulit ia hirup. Seakan paru-parunya menolak O2 masuk. Diliriknya Danu yang tak hirau lagi. Lelaki itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Ningsih kerap merasa status istri hanyalah tempelan saja. Tanpa ia mendapatkan hak sebagai istri. Kewajiban? Tentu semua dilakukan Ningsih tanpa diminta. Ia melayani Danu lahir batin tanpa keluhan.

“Salahkah jika kali ini aku meminta sesuatu kepadamu, Pa?”

Danu bergeming. Ningsih pun sama, menunggu apa yang akan diucapkan oleh lelaki itu. Sayang, lelaki itu kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa sepatah kata.

Percuma menunggu. Respon Danu pasti sama setiap hari. Hanya saja Ningsih berharap adanya sebuah keajaiban. Ada kekuatan yang membolak balikkan hati Danu.

Jarum jam terus berdetak, makin malam bunyinya semakin jelas terdengar. Dua belas menit lagi jarum pendek itu tepat di angka 12 malam. Artinya ia harus bersiap mendengarkan kembali jeritan Bima–anak semata wayangnya.

Keringat Ningsih bertabur menggulir sebesar butiran jagung. Doa tak pernah berhenti ia panjat. Diliriknya Danu masih sibuk dengan pekerjaannya. Hati wanita tiga puluh tahun itu makin tak keruan.

Malam ini ia haru mengakhiri semua. Jika tidak, ia akan terus tersiksa seperti ini. Lama kelamaan otaknya akan stres jika tak segera mencari solusi.

Udara malam yang tadinya gerah mendadak dingin. Bulu kuduk Ningsih mulai meremang. Angin perlahan menyingkap tirai jendela yang pasti terbuka di tengah malam ini. Padahal jendela itu sengaja ia paku dan tak pernah dibuka meskipun siang.

Lima menit lagi pukul 12 malam. Ningsih bergegas mengambil sesuatu yang keras, dingin dan juga … tajam dari balik baju panjangnya.

Tepat di detik terakhir. Jam dinding berdentang 12 kali. Bunyinya yang nyaring bersaing ketat memekakkan telinga dengan teriakan Danu.

Danu? Ya, kali ini bukan Bima yang berteriak, melainkan Danu yang terpana melihat tangan Ningsing bersimbah darah dan … tubuhnya mendadak limbung seiring derasnya cairan merah yang mengalir dari punggungnya.

“Ning …, ka…u?”

“Maafkan aku. Hanya ini jalan keluar yang kumiliki setelah sekian lama kumemohon kepadamu. Jika jasadmu tiada, makhluk penunggu rumah ini tak akan pernah bisa lagi masuk ke tubuhmu dan mengubahmu menjadi sosok wanita menyeramkan.” Ningsih sejenak diam. “Akhirnya aku bisa lega, menyelamatkan Bima dari rasa takut setiap malam karena melihatmu.” Perlahan bahu Ningsih berguncang. Antara tertawa ataukah menangis. Ningsih tak tahu.

“Ningsiiiih…!”

Sayup suara itu membuat Ningsih terlonjak. Di belakangnya Bima. Bukan. Di belakangnya makhluk itu mengubah Bima menjadi dirinya.

“Keparaaat!”

Ningsih menyumpah tak keruan. Lantai semakin bersimbah darah. Makhluk itu tertawa mengejek. Membuatnya semakin kalap.


Harian Indonesia pagi ini.

“Ditemukan dua mayat akibat luka tusuk di perumahan Asri. Sosok mayat tersebut diperkirakan laki-laki berumur 40 tahun dan bayi berumur 6 bulan. Diduga pelaku sedang mengalami depresi yang sangat berat pasca melahirkan. ….”

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: