Jejak Artikel Jejak Literasi Nonfiksi

Perlunya Penataan Pikiran Positif Bagi Seorang Ibu Niscaya Akan Menjadi Happy Mom

Penataan pikiran positif dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat ternyata sangat diperlukan bagi seorang isteri sekaligus seorang ibu.

Tak jarang keluhan demi keluhan mewarnai hari-hari, karena hasil kerja otak yang bermuatan negatif malah memperberat beban pekerjaan sebagai seorang ibu.

Misalnya, ni, ya, ketika hari libur datang. Suami ada di rumah. Kontan emak-emak mind set otaknya bahwa pekerjaan rumah akan lebih ringan, akan lebih cepat selesai.

Pada kenyataannya, ternyata lebih membuat hati makin gerimis ketika melihat suami asyik sendiri dengan kegiatannya. Entah baca koran, buku, entah di kebun dan sebagainya. Apalagi ketika dimintai tolong untuk momong si kecil, baru sebentar sudah kecapekan. Sementara pekerjaan masih menumpuk, jadilah hati ibu sesek, jengkel, kesel, ngedumel bin sewot.

Akhirnya dari lelah menjadi semakin lelah karena beranggapan suami tak bisa berbuat apa-apa walaupun ada di rumah.

E-eeet …, ini, nih yang perlu kita tata ulang supaya kapasitas kita sebagai isteri sekaligus ibu menjadi sebuah rutinitas dan tanggung jawab yang tetap enjoy dijalani.

Mau tau kenapa hal ini terjadi?

Karena kita berpikir bahwa pekerjaan kita di rumah berkurang dengan kehadiran suami. Kita tidak menyiapkan mental dan energi sebagai mana kita biasanya mengerjakan sendiri. Kita berharap akan dibantu untuk menyelesaikan tugas-tugas kita, tapi kadar bantuannya tidak sesuai harapan, makanya jadi gampang kesal.

Padahal sebenarnya di hari-hari suami kerja dan tidak ada di rumah semua pekerjaan bisa terkaper dan tidak ada masalah. Oleh karena itu, kita perlu mengubah mind set kita. Jika kita menyadari sepenuhnya akan tugas sebagai ibu dari mengerjakan tugas domestik. Dari mengerjakan segala, ompol, muntah, mandi, minum obat, makan, dan ngemong anak menjadi tanggung jawab ibu. Maka, tidak ada rasa lelah mengurus semua itu.

Jika dalam pikiran kita tertanam bahwa tugas utama seorang ibu rumah tangga adalah di rumah sementara suami mengurus maisyah dan urusan-urusan publik lainnya, maka tak ada deraan capek berlebihan.

Apalagi jika kita menyadari sepenuhnya bahwa si suami memang tidak sama dengan isteri. Dia memiliki jam latihan yang relatif pendek ketika di rumah. Jadi, untuk mengatasi anak yang rewel kadang tak bisa sesabar kita. Suami juga tak bisa momong si kecil terlalu lama, karena itu memang fitrahnya begitu. Jadi simpanlah rasa iri, kalau tidak maka kita akan mudah stres.

Ditambah lagi misalnya pikiran-pikiran merasa tak berharga. Tersisih, bete seharian di rumah, terkungkung dengan tugas itu-itu saja, kita perlu dihibur dan sebagainya. Maka, bertambahlah lelahnya jiwa.

Dapat disimpulkan bahwa yang buruk berasal dari pikiran yang buruk. Oleh sebab itu, kita harus mengeliminasi pikiran-pikiran negatif dan mengisinya dengan yang positif. Penataan pikiran ini memang perlu dilatih dan ditata setiap saat.

In syaa Allah dengan menanamkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab, maka pikiran negatif akan terkalahkan. Sebaliknya keikhlasanlah yang mengiringi segalanya, in syaa Allah kita akan menjadi happy mom. Sebuah pekerjaan yang mempunyai ladang pahala yang besar.

Semoga bermanfaat.

jejakme/rusminiummuhuwaida

0Shares

(1) Komentar

  1. […] 📌https://jejakme.com/perlunya-penataan-pikiran-positif-bagi-seorang-ibu-niscaya-akan-menjadi-happy-mo… […]

%d blogger menyukai ini: