Jejak Literasi Tema Bebas WCR

Pelajaran Berharga dari Hidup Nomaden

Pernahkah kamu merantau? Meninggalkan kampung halaman dan berpisah dengan sanak keluarga.

Maka berbicara tentang merantau, aku telah terbiasa menjalaninya sejak usia 12 tahun. Di usia belia itu kuhidup berpindah tempat menyesuaikan keadaan. Lulus sekolah berpindah ke tempat kuliah, lalu ke tempat kerja dan berlanjut hingga menikah.

Kini sepuluh tahun sudah aku menetap di Kalimantan Timur. Merantau dari Banjar dan tinggal di tana Paser mengikuti suami yang berdinas di sini.

Sebagai pegawai BUMN yang tugasnya bisa dipindahkan ke mana saja dalam lingkup perusahaan terkait, maka siap tidak siap aku harus siap mengikuti jika ingin terus bersama.

Akhir tahun 2019, suami baru dipindah tugaskan. Saat itu aku sedang hamil besar. Di kondisi itu, mau tak mau, berat tak berat, semua harus mau dan diringankan untuk packing perkakas rumah.

Barang-barang yang terkumpul selama sepuluh tahun tak bisa semuanya dibawa. Bahkan ada barang yang lebih baik diberikan kepada para tetangga.

Contohnya kepindahanku di tahun 2017 lalu, bunga-bunga cantik dalam pot, tempat pot bunga berbentuk spiral dengan tinggi sekitar dua meter, tanaman sayur di pekarangan rumah (tentu saja untuk kebun yang kutanam penuh cinta tak bisa diangkut kan), jemuran stainles besar, dan beberapa perkakas dapur berukuran besar aku pilih tak diangkut.

Ketika mengetahui bahwa suami mutasi kerja, awalnya banyak hal yang kupikirkan. Ah, bagaimana dengan tanaman hiasku? Bagaimana dengan sayur-sayur yang sebentar lagi panen? Bagaimana membawa barang-barang ini semuanya ke tempat baru dan banyak lagi yang kutakutkan.

Di hari H kepindahan, truk untuk mengangkut barang nyatanya tak muat dan harus ada barang yang dikorbankan, kecuali aku harus menambah satu angkutan lagi. Menambah angkutan itu artinya sama dengan menambah biaya. Akhirnya fix beberapa barang tetap stay di tempat asal dan diambil oleh para tetangga yang telah diberitahu.

Begitu pula dipindahan terbaruku di akhir tahun 2019 tadi. Ada banyak barang yang juga ditinggalkan.

Tahukah, Teman? Setiap kali suami menerima surat mutasi hal yang pertama terpikirkan adalah bagaimana barang-barang ini diangkut. Namun, setelah berkali-kali pindah ada satu hal penting yang dapat kuambil bahwa apa pun yang kumiliki, berapa tahun pun mengumpulkannya, berapa mahal harganya dan seberapa banyak bendanya. Nyatanya semua bukanlah hal yang berarti.

Buktinya di saat aku merasa berat awalnya untuk meninggalkan semua, ternyata setelah pindah dan tinggal di tempat baru, maka barang-barang yang kutinggalkan tak lagi terpikirkan. Nyatanya ketidak adaan barang tersebut tetap membuatku bisa berlanjut hidup.

Berpindah tempat tinggal juga sama artinya berpisah dengan para tetangga dan orang-orang terdekat yang selama ini berinteraksi denganku. Sedih, tentu. Berat, pasti.

Lalu semua pun dijalani, nyatanya apa yang berat di awal tak seberat apa yang dipikirkan. Semua rasa berat dan sedih itu manusiawi, wajar adanya asalkan tak membiarkannya berlarut-larut dalam pemikiran hati yang penuh sesak.

Berulang kali aku pindah. Berulang kali apa yang kumiliki tak semuanya bisa turut serta, jikapun memaksakan untuk membawanya maka yang terjadi adalah barang itu tetap diam tak terpakai. Bahkan sempat keluar ucapan, “ah, untuk apa, ya, kubawa ini dan itu. Capek-capek ngangkutnya. Nyatanya nggak digunakan juga.”

Bukankah kita kerap begitu, Teman?

Dunia ini hanyalah sebuah persinggahan sementara. Tempat mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal untuk akhirat nanti, lantas apa yang tersaji dan digenggam erat di alam fana ini tidaklah berarti lagi.

Kita berat meninggalkan, melepaskan ini dan itu. Kita takut kehilangan ini dan itu. Kita pusing memikirkan ini itu, lalu pada kenyataannya semua hanya sia-sia. Ketika malaikat datang menjemput, semua itu tak ada artinya.

Kehidupan berpindah tempat selama beberapa tahun kujalani mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah menikmati dan mensyukuri apa yang ada. Kita tak bisa menggenggam semua harta dunia di tangan ini, karena sesungguhnya itu hanya akan menjadi beban dan pemberat hati untuk dunia. Lalu akhirat tergadai dalam pemikiran takut dan keniscayaan keyakinan tercoreng bahwa nyatanya manusia kelak sendirian dengan apa yang melekat di dirinya. Bukan pakaian melainkan amal yang kan setia mengikuti hingga hari kebangkitan nanti.

Sudah siapkah kita merekatkan amal tanpa mal dunia di hati?

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: