Jejak Literasi Tema Ditentukan WCR

Terserah Bukan Berarti Pasrah

Teman, masihkah kamu ingat cerita tentang baik sama dengan bodoh ? Lelaki itu kini membuatku limbung.

Sepuluh tahun sudah aku dan dia bersama. Menjalin kasih yang lebih romantis dibanding kisah cinta Romi dan Juli, dahsyatnya kasih Layla Majnun, pun Habibie dan Ainun. Aku punya kisah tersendiri dan aku yakin sebenarnya setiap pasangan punya kisahnya masing-masing. Inilah kisahku, Teman.

Seperti yang pernah kuceritakan padamu bahwa ia lelaki baik bahkan teramat baik. Bukan karena ia lelaki pilihan hidup hingga kumemujinya, melainkan begitulah adanya.

Tepat 1 Juni 2020, ia menerima SK mutasi lintas provinsi. Mulanya biasa saja, rasanya hampir sama dengan surat mutasi lainnya. Bahkan aku lebih banyak dan sering memotivasinya saat ia merasa berat dengan surat itu.

Lelaki itu bilang, bukan jabatan yang dia cari. Dia hanya ingin bisa dekat denganku dan anak-anak, keluarga kecilnya. Dia bahkan meminta untuk tetap di sini, Kalimantan Timur meski harus turun jabatan dan kerja di lapangan. Semua demi bisa tetap di sini.

Sayangnya permintaan itu ditolak dengan alasan jangan menolak rezeki yang telah diberi juga kepercayaan yang ada. Para pengambil keputusan di atasnya meminta dan percaya, maka jangan sia-siakan.

Fix. Mutasi harus dijalani. Drama demi drama kegundahan hati mulai berirama.

Dari sekian banyak drama yang terjadi, banyak rencana ABC dan D. Banyak pertimbangan ini dan itu, puncak semua keputusan berakhir pada kesepakatan bahwa lelaki itu berangkat sendiri ke tempatnya bekerja. Ya, sendiri tanpa aku dan anak-anak.

Kau tahu, Teman? Seketika aku merasa lunglai. Tak terasa lagi terik mentari yang menyengat, ujung kakiku mendadak dingin sedinginnya. Detak jantungku tak keruan. Lalu ada sakit mengiris di dalam dadaku. Ini bukan perpisahan, aku tahu. Hanya jarak yang membentang lebih jauh. Hanya tembok tinggi yang membuatku tak mampu menggapainya. Aku limbung dan jatuh dalam derai sederasnya.

“Saat kalian jauh, aku bagai ruh yang hanya mampu menatap tanpa bisa menggapai. Aku hanya mampu mendengar tanpa bisa memeluk.” Begitulah ucap lelaki itu padaku.

Pipiku kembali basah. Aku berada pada titik terendah.

Teman, aku tahu waktu terus bergulir dan panjatan serta keluh terbaik hanyalah pada Sang Maha, maka kupanjatkan segala rasa dalam linang yang ingin sekali kubendung, sayang itu tak kuasa. Sajadahku basah bersama isak tertahan. Ya, aku tak ingin ia tahu aku menangis. Aku tak ingin ia lemah melihatku bersedih. Sekali lagi nyatanya ia tahu. Aku menangis.

Keputusan telah dibuat. Rencana terbaik di mata manusia telah terpatri. Penyerahan diri dan segala hal terbaik kukembalikan pada-Nya. Jawaban itu pun hadir, di hari yang tak terduga, jalan yang tak disangka, lelaki itu harus berangkat sendiri.

Kupeluk erat tubuhnya. Kugenggam erat jemarinya, maka rangkaian kata demi kata mengalir indah di senyap malam.

“Jika Allah ingin jalan seperti ini, berarti Dia tahu inilah yang terbaik untuk kita. Dia tahu kamu kuat dan mampu menjaga empat anak yang masih kecil.”

Teman, aku terus saja menangis hingga mataku sembab. Lalu lelaki itu pun menceritakan sebuah kisah kepadaku.

“Kau pernah dengar cerita tentang sepasang suami istri?” Aku diam dan terus mendengarkan seraya mengeratkan genggaman tangan.

“Suami istri itu hidup miskin, oleh satu dan lain hal ada jalan keluar untuk kemiskinannya. Hanya saja lelaki itu harus menempuh jarak berkilometer untuk sampai ke sana dengan jalan kaki, maka sang istri pun mengeluh tak sanggup.

“Kau tahu istriku? Ada seseorang tak punya kaki dan ia ingin sekali bisa jalan seperti kita. Lalu mengapa kita yang diberi kaki tak menggunakannya dengan baik dan maksimal?” Sang suami berkata lembut.

Sang istri terdiam dan merenungi kata-kata sang suami. Begitu pun aku, meresapi kata-kata lelaki yang menjadi imamku.

Lelaki di sebelahku kembali berkata, “tahukah kamu bahwa ada banyak jalan yang Tuhan beri dan harus kita tempuh? Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kita. Kita tak akan pernah tahu akan seperti apa ke depannya. Apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Tugas kita hanyalah berdoa dan menjalani semua dengan ikhlas. Bukankah ikhlas itu meringankan hati. Hidup tanpa beban tentu lebih indah.”

Aku punya banyak kata, hanya sesaat kata itu terpenjara bersama gundah yang membara.

Kutarik napas berkali-kali. Aku berharap dada ini tak sempit lagi. Ikhlas datang berkunjung dan hatiku benar-benat ringan.

“Menangis, sedih adalah manusiawi, Sayang. Hal wajar di sebuah hal perdana yang tak pernah dialami dan dijalani. Berpisah jarak denganmu adalah sesuatu yang akan dan selalu membuat rinduku terbakar. Meski begitu, entah dingin darimana selalu menyesap membekukan sendi-sendi tulangku, maka izinkan aku menangis malam ini. Menangis dalam pelukanmu.”

Teman, kamu tahu beratnya hatiku melepasnya? Hingga ujung jari aku berharap ada keajaiban terjadi. Sayang itu tak ada. Tuhan ingin aku dan lelaki itu kuat dan belajar ikhlas. Menjalani kebersamaan di rentang 1.500 km harus dimulai. Bismillah. Itulah langkah yang mesti ditempuh kini.

Aku dan lelaki itu hanyalah perencana dan penentu segalanya hanyalah Dia yang Maha Berkehendak. Bisik-bisik jiwa kini menyertaiku dan dia. Terserah Allah hendak memberikan dan menakdirkan apa kepada kami, yang jelas meski terserah, aku dan lelaki itu tak akan berpasrah ria dengan keadaan. Melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan adalah cara terbaik untuk menjalani masa yang terus maju. Tak akan ada pengulangan waktu. Hingga segalanya berakhir dan manusia harus kembali pada Sang Khaliq dengan segala tanggung jawabnya.

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: