Jejak Literasi Nonfiksi

Baik Sama Dengan Bodoh; Benarkah?

Teman, kali ini akan kuperkenalkan padamu seseorang. Siapakah dia? Dia laki-laki biasa. Dia tak setenar artis korea, pun artis-artis dunia lainnya. Dia juga berasal dari keluarga biasa. Tak ada darah biru mengalir di tubuhnya, apalagi darah kuning hijau di langit yang biru. Ah, abaikan.
Yang jelas ia laki-laki biasa berwarna darah sama dengan lainnya.

Dia juga bisa sedih bahkan menangis. Bisa tertawa bahkan terbahak. Bisa marah bahkan membentak. Sekali lagi dia laki-laki biasa.

Kumengenalnya 16 tahun lalu. Tak ada yang menarik untuk dilirik darinya, apalagi sampai membuatku kesengsem dan menyanjung. Tak mungkin juga aku mengejar-ngejarnya karena ini bukan lomba lari apalagi sepak bola, karena jelas ia bukan bola.

Kalau kau bertanya bagaimana rupanya? Mmm…biasa saja, kecuali punya hidung sedikit mancung dan lesung pipit di pipi kanannya. Jika tertawa, suaranya membahana hingga ke dasar samudera. Ah, terlalu mendramatisir, ya. Sebenarnya itu lebih kepada perumpamaan yang mengartikan suaranya itu begitu nyaring dan khas. Jika kau tengok postur tubuhnya, rasanya tak mungkin tawa sekeras itu berasal darinya. Sayangnya suara itu murni keluar dari pita suara di tenggorokannya.
Apakah kini dapat kau bayangkan seperti apa dia?

Baiklah kulanjutkan ceritanya.

Dia laki-laki biasa. Tak ada yang menarik darinya untuk membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Maka seiring waktu berlalu, entah kenapa ada medan magnet melingkupi hatiku. Nah, apakah aku kesambet atau kesantet cinta? Ah, tidak, Teman. Jangan ber-su’udzon dulu. Dia pria baik-baik tak mungkin melakukan seperti itu, karena dia tahu hal demikian adalah perbuatan syirik. Kau tahu kan, jika syirik itu akan membawa pemiliknya terjun bebas ke jahiim. Na’udzubillah, ya.

Next.

Seiring berjalannya waktu, aku dan dia semakin dekat. Satu hal yang selalu ada dalam dirinya adalah sikap dan sifatnya yang begitu baik. Baik seperti apakah? Entahlah jika ini menurutmu bukan hal baik, tapi bagiku bisa dipastikan bahwa di mata dan pikiranku itu adalah sebuah kebaikan.

Sekarang akan kuceritakan kepadamu hal baik apa darinya. Dia selalu mentraktirku makan di warung dulu, sewaktu kami masih sama-sama kuliah. Ah, mentraktir makan kan biasa, siapa pun juga bisa melakukannya. Apalagi untuk menarik perhatian seorang cewek. Mungkin itu yang kau pikirkan, Teman.

Oke. Baiklah. Pasal mentraktir kita skip. Dia selalu berkata sopan kepada siapa pun. Apa kau juga akan mengatakan itu biasa? Ya, kedengarannya itu memang hal biasa, ya. Sayangnya bagiku itu bukan hal biasa, kenapa? Karena tidak semua orang dapat tetap berlaku sopan dan menaruh hormat pada seseorang di saat hatinya telah disakiti, harga dirinya diinjak-injak.

Apakah dia tipe pasrah dan menerima apa saja segala yang terjadi?

Tidak, Teman. Dia pekerja keras bahkan dia termasuk keras kepala. Hanya saja sampai saat ini satu hal itu tak dapat kumengerti, apalagi kamu, iya, kan?

2020 sejak 16 tahun lalu. Ia tak berubah. Tetap konsisten melakukan hal baik, bahkan kebaikannya itu sering dianggap orang lain bodoh pun aku dulu pernah berpikiran hal yang sama.

Bayangkan, Teman. Dia telah bekerja keras, meluangkan segala waktu, tenaga, bahkan materi pun kesehatannya sendiri terabaikan. Demi bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal. Lantas setelah semua dilakukan bukannya pujian, yang didapat malah makian, caci, hina bahkan sumpah serapah daftar nama binatang keluar.

Kau tahu, Teman? Dia menangis di depanku. Bercerita akan hal itu. Aku yang mendengarnya turut marah dan panas hati, ingin mengembalikan makian itu kepada pemiliknya. Namun, urung. Dia laki-laki biasa. Dia tetap ramah dan sopan berbicara, meski hatinya telah tercabik ribuan kali.

Seperti halnya Nabi Muhammad, lelaki mulia itu tak lantas mengiyakan tawaran Zibril.

“Wahai, Muhammad! Jika kau mau, aku akan menimpakan kedua gunung ini kepada mereka yang telah menghinamu.”

Nabi Muhammad malah menolak dan mendoakan mereka hal yang baik.

Benar saja bertahun setelah itu anak keturunan mereka mengikuti ajaran sang Rasul.

Apakah maksudmu aku mengatakan ia seperti Rasul? Tidak, Teman. Sekali lagi dia laki-laki biasa. Bukan nabi apalagi rasul. Dia sungguh manusia biasa yang pandai berbuat khilaf seperti kebanyakan orang.

Hanya saja satu hal yang hingga kini tak dapat kutiru darinya. Hatinya seluas samudera, dadanya selapang gurun sahara, jiwanya seteduh awan yang mengiringi di kala terik.

Setiap sikap buruk yang diterimanya, ia tak pernah berniat apalagi membalas. Dengan ringan hati tanpa merendahkan diri dia tetap berlaku baik. Kau tahu, Teman apa yang didapatnya?

Setelah sekian tahun aku mengenalnya, aku melihat kenyataan sendiri. Bukti dari apa yang selama ini dianggap mereka bodoh. Ya, buah kebaikan itu ada. Sangat nyata.

Saat ego telah mampu dikalahkan, maka nafsu pun merunduk, Tuhan semakin dekat dan apalagi yang didapat selain sebuah kebaikan mengiringi.

Orang-orang yang mulanya jahat, bersikap buruk, berkata kasar, dan merendahkannya kini justru bersikap terbalik. Siapa lagi yang menggerakkan hati-hati mereka selain Allah. Ya, Dia pemilik hati-hati manusia yang berkuasa penuh akannya.

Kau tahu, Teman? Aku kadang bingung dan tak percaya mengapa setiap kesulitan yang menimpanya selalu bisa selesai. Sebesar apa pun itu. Aku melihatnya kerap berpikir keras untuk menyelesaikan masalah. Hal yang aneh menurutku, masalah itu selesai atau belum selesai datang lagi masalah baru. Begitu seterusnya.

Di nalarku yang begitu awam, masalah itu akan menjadi buruk bahkan sulit mencari jalan keluarnya, tapi tidak bagi laki-laki ini. Ia laki-laki biasa. Perawakannya kecil untuk ukuran laki-laki, tapi hatinya begiti besar. Maafnya begitu indah. Sabarnya luar biasa.

Maka, dapat kusimpulkan Tuhan itu benar tak pernah tidur, Dia akan memberikan balasan setimpal usaha dan doa, Dia akan selalu mengijabah doa dalam bentuk yang bahkan kita tak pernah duga, dalam waktu yang tak disangka, kesabaran pasti berbuah manis, kebaikan pasti berbalas kebaikan dari-Nya.

Tuhan tak melihat seberapa besar hal baik yang dilakukan, tapi konsistensi itu walau kecil akan bernilai luar biasa di hadapan-Nya.

Kau tahu, Teman? Hingga kini aku menangis karena tak bisa meniru hatinya yang lapang. Bukankah mengikut hal baik itu baik? Sayang, hal itu sulit.
Jadi, masihkah ada yang mengatakan berbuat baik itu sama dengan bodoh?

jejakme/walidahariyani

0Shares

(1) Komentar

  1. […] masihkah kamu ingat cerita tentang baik sama dengan bodoh ? Lelaki itu kini membuatku […]

%d blogger menyukai ini: