Jejak Artikel Jejak Literasi Nonfiksi Quote

Malas vs Rileks : Kamu Pilih yang Mana

Bismillahirrahmanirraahiim

Setiap manusia pernah mengalami rasa malas. Hal yang membedakannya adalah dari kemampuan untuk mengatasinya saja agar tidak keterusan. Apalagi sampai berlabelkan sebagai orang yang pemalas.

Sebelum lanjut mari kita cari tahu terlebih dahulu pengertian malas.

Apa, sih, malas itu?

Di dalam KBBI arti malas adalah tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Segan, tidak suka, dan tidak bernafsu.

Terus, what are the causes?
Mari kita tilik, yuk!

✏ Monoton dengan aktivitas yang dilakukan.
✏karena alasan capek dan bosan, lagi nggak mood.
✏Bingung kerjaan numpuk tapi nggak tahu apa yang harus lebih dulu dikerjakan.
✏kurang semangat atau nggak ada motivasi.
✏nggak punya planning hidup yang jelas.

Harapan tinggi tapi tidak tahu jalannya. Tidak berusaha memulai dan bergerak maka asa pun akan sirna.

Sekecil apa pun rasa malas dapat menyebabkan suatu masalah yang besar.

Laa shaghirata ma’a al-ishrar.” Artinya : “Tidak ada sesuatu yang kecil apabila dilakukan terus menerus.” ( Ali bin Abi thalib).

Kita mulai dari hal yang kecil saja dulu. Bayangkan jikalau kita malah betah dengan hidup malas-malasan.

Misalnya:
Malas mandi badan jadi bau😬 dan berpenyakit.

Malas bangun pagi rezeki dipatuk ayam. Badan kering dan terlambat masuk kerja.

Malas mengunci pintu rumah siap-siap mengundang maling.

Tuh, kan! Apa nggak menjadi masalah besar jadinya?

Bagaimana kalau misalnya kita malas belajar, malas menuntut ilmu?

Hal ini membuat kita akan tampak bodoh, wawasan nggak berkembang, otak nggak terasah, minim inspirasi dan inisiatif.

Malas bekerja, nggak mood mengerjakan sesuatu (apa lagi kalau ibu-ibu nggak mood masak, nggak mood nyuci, dan lainnya. Suami dan anak bingung mau makan apa, keadaan rumah jadi mengerikan karena nggak terurus.

Lebih ngeri lagi kalau malas ibadah, sholat, ngaji, dan malas baca Quran. Bagi orang yang berpikir maka konsekuensinya lebih besar dan lebih dahsyat lagi.

Orang yang berpikiran maju ke depan dia nggak akan memilih malas-malasan yang berkelanjutan. Karena dia sadar apa yang akan bisa dia capai jika rasa malas terus-terusan dipelihara.

Lalu nggak bolehkah kita bermalas-malasan sedikit saja?

Jika kita menjadi pribadi yang handal dan mengenal tuntunan yang baik sebagai muslim ideal, maka lebih tepatnya bahasanya bukan malas-malasan tetapi “istirkha” atau rileks.

Kita butuh rileks, butuh mengatur mood diri. Itulah pentingnya mengambil jeda agar semua yang dikerjakan tidak terlalu monoton. Merilekskan tubuh dan pikiran yang terkuras selama bekerja.

Adalah hal yang wajar kalau dalam kehidupan ada rasa suntuk, bete, bosan, dan sebagainya. Saat itulah kita butuh rileks, tapi jangan keterusan karena bisa jadi akan muncul rasa malas.

Nah, kalau sudah malas ada dalam diri, maka kita harus berusaha menghilangkannya.

Mari kita uraikan penyebab rasa malas kemudian cari solusinya.

Bosan/ monoton —–> Refreshing

Refreshing nggak harus piknik yang jauh. Cari suasana baru saja. Misalnya mengubah tata letak kamar, berkegiatan menanam bunga dan tanaman-tanaman yang lain. In syaa Allah pikiran jadi fresh lagi.

Lagi banyak masalah—-> berusahalah selalu calm tenang agar pikiran jernih dan mudah memecahkan masalah.

Cobalah pilah dan pilih masalah yang lebih dahulu diselesaikan. Pandanglah masalah dari sudut lain. Terkadang ketika dipandang dari sudut lain masalah itu akan terasa ringan bahkan bisa jadi tak ada lagi.

Kecapekan——> bawa istirahat dulu.

Kalau banyak yang dikerjakan atur dan bikin jadwal agar nggak kelimpungan dan kelupaan. Jangan sekali-kali menumpuk pekerjaan, ya.

Nggak semangat—–> bergaulah dengan orang-orang yang memberikan energi positif bagi kita.

Karena terkadang kita hanya cukup bergaul dan melihatnya sudah cukup menjadi nasihat berharga, tanpa dia mengucapkan nasihat sepatah kata pun. Percayalah semangat itu menular, lho.

Inilah sebagian contoh untuk memerangi rasa malas. Mungkin banyak cara lain yang kalian bisa lakukan. Lebih banyak belajar dan lebih banyak mencari ilmu. Agar setiap derap langkah kita lebih banyak memberikan manfaat.

Jangan lupa berdoa, ya. Rasulullah saja berdoa untuk menjaga semangat beliau Apalagi kita seharusnya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Jadi, pilih mana, malas atau rileks?

jejakme/rusminiummuhuwaida

0Shares
%d blogger menyukai ini: