Jejak Artikel Jejak Literasi Nonfiksi Pedoman Literasi Quote

Lolos Naskah True Story di Mayor: Bukan Sekadar Cerita di Balik Layar

Beberapa pekan lalu saya mendapat info adanya kelas true story yang diadakan oleh salah satu senior dalam bidang literasi. Tanpa banyak pikir, saya segera mendaftarkan diri.

Kelasnya murah meriah, tapi ilmunya nggak murahan, lho. Ilmunya daging bin gurih apalagi ada bincang dengan editor salah satu penerbit mayor juga. Wuih, pokoknya senang sekali bisa berada di sana.

Nah, setelah kelas berakhir. Para peserta diberi kesempatan untuk menulis naskah lima halaman. Apa naskahnya? Ya, tentu saja menulis true story.

Deadline telah ditentukan di waktu pemberian materi. Waktu terus berjalan. Info email masuk sudah bergulir.

Saya?

Ah, naskah itu masih menari-nari di kepala. Alam pikiran saya dipenuhi berbagai cerita yang hendak diangkat. Masih memilah-milah mana yang lebih menarik dan benar-benar pas dengan tema yang diminta.

Jujur saya paling tidak bisa dan susah membuat outline dalam bentuk tulisan. Makanya jika diminta menuliskan outline itu rasanya sesuatu. Perjuangan yang lebih sulit dari menulis isinya.

Berbicara tentang outline saya tidak membahas itu di sini, mungkin lain waktu akan saya ceritakan. Oke lanjut, ya.

Setelah fix cerita yang hendak ditulis, saya mulai membuka laptop kesayangan. Membuka aplikasi word dan taraaa…

Hanya beberapa kata yang tulis hapus sampai berkali-kali. Sekali lagi memulai kalimat pertama itu berat. Bagi saya kalimat pertama itu ibarat pintu tulisan selanjutnya, jika saya tak bisa membukanya alhasil tulisan itu tak akan selesai.

Kalimat pertama di sebuah naskah itu ibarat pintu. Jika gagal memulainya, maka gagallah membuka pintunya.

Setelah berkutat beberapa lama. Termangu di depan laptop beberapa jam, hal ini diselingi dengan momong satu baby berusia dua bulan, tiga anak saya 3, 6, dan 8 tahun. Yang besar tentu tidak dimomong lagi, tapi saya menemani mereka belajar di rumah.

Teet! Alarm penyerahan diri saya akan kebuntuan berbunyi. Tak ada naskah jadi dalam laptop. Naskah itu saya tinggal dan mengerjakan hal lain.

Sembari mengerjakan hal lain, saya terus membayangkan jalan cerita dan mengulang membaca materi.

Kalimat pembuka yang bagus dan menarik, pastinya kalimat yang membuat penasaran pembaca hingga mau menyelesaikan bacaannya sampai selesai.

Hari berganti. Deadline mendekat. Naskah belumlah kelar. Saya kerap menelan air liur manakala melihat info di grup bahwa teman-teman telah ramai mengirimkan naskahnya.

Saya tak lagi mengetik di laptop. Si baby beberapa hari malah minta ditemani, jika saya beranjak sebentar saja ia akan menangis. Jadilah andalan saya benda mungil bernama hp.

Di grup WA yang beranggotakan saya sendiri, di sanalah saya mulai menulis. Lagi-lagi tulisan itu terus berulang ketika dibaca lagi. Ada yang tidak pas saya rasa.

Bukankah jika ingin menulis sesuatu yang disukai pembaca itu adalah tulisan yang jika kita sendiri membacanya kita suka, bisa merasakan feel di dalamnya, dan tulisan itu mau kita baca.

Tulisan yang baik adalah jika kamu membacanya ulang akan ada feel dan sensasi menarik di dalamnya.

Dua hari sebelum hari H. Naskah saya jadi sebanyak 9 halaman. Harusnya saya senang bisa menulis sepanjang itu, tapi nyatanya tidak. Karena naskah itu harus dipangkas menjadi 5 halaman saja sesuai ketentuan.

Ya, ini adalah cerita true story yang akan diseleksi oleh editor mayor. Akan dipilih 15 penulis saja dari puluhan naskah yang masuk.

Dalam hal pangkas memangkas, jika itu naskah sendiri rasanya begitu sulit ketimbang memangkas naskah orang lain.

Semua kesulitan itu membuat saya memilih menulis naskah baru dengan inti cerita yang sama.

Tulisan saya di WAG sendiri selesai. Saatnya memindahkan ke WPS dan memasukkan biodata narasi.

Ingat, ya. Biodata diri itu penting sekali di manapun kamu mengirimkan naskah pastikan biodata diri disertakan.

Semua selesai. Di waktu hendak mengirimkan, si baby terbangun dan menangis minta ASI. Oke, masih ada waktu jam 11 malam. Masih ada waktu hingga pukul nol nol.

Blas. Saya tertidur. Ketika terbangun jarum panjang menunjukkan menit-menit terakhir. Terburu saya mengambil hp dan mengecek alamat email.

Fail siap dikirim. Teet! Uh, baterai hp telah low dan akhirnya benar-benar mati. Bergegas saya memasang charger dan menunggu beberapa saat.

Sebenarnya hampir saja saya menyerah. Suami yang belum tidur bertanya kenapa saya belum tidur. Saya pun menjawab hendak mengirim naskah yang nantinya akan diseleksi dan memohon didoakan.

Baterai telah terisi beberapa persen. Hp telah dinyalakan dan …

Signal menghilang. Lagi-lagi saya harus menelan air liur yang kian pahit.

“Ya, Allah. Izinkan saya mengirimkan naskah ini.”

Hati terus bergema dalam harap. Jam tentu telah lewat pukul 00. Hanya kemurahan-Nya lah yang kini mampu menolong.

Kala signal datang dengan sigap saya mengirimkan naskah, via WA juga via email.

Sungguh segala usaha telah dilakukan, hasil serahkan semua kepada-Nya.

Lega. Walau tak tahu apakah naskah itu akan diterima atau tidak.

Setelah usaha, doa adalah sebaik-baik yang bisa dilakukan.

Lupakan naskah yang telah dikirim dan tulislah lagi naskah lainnya.

Begitulah cara saya untuk melupakan getar dan debaran harap menanti pengumuman.

Pada tanggal yang ditentukan. Hari itu hati saya gerimis bahagia. Naskah itu lolos dan bakal turut diterbitkan bersama 14 naskah lainnya. Syukur tak terhingga.

Sungguh campur tangan-Nya begitu nyata pada kehidupan manusia.

Jadi, semangatlah menulis dan cobalah walau kamu tak merasa percaya diri.

Sebelum mencoba kamu tak akan tahu, apakah itu naskah terbaik atau bukan.

Selamat menulis dan salam literasi.

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: