Jejak Artikel Jejak Literasi Tema Ditentukan WCR

Lebaran di Rumah Saja ; Haruskah Turut Mengatakan #Terserah?

Merantau sejak 2010 hingga kini, ini bukan kali pertama aku tak pulang kampung ketika lebaran Idul Fitri. Namun, ini menjadi lebaran pertama tanpa kubisa turut turun ke mesjid. Melangkahkan kaki dan berkumpul bersama para tetangga dan orang-orang di sekitar.

Tahun-tahun kemarin meski tak pulang kampung, minimal aku dan keluarga kecilku jalan-jalan bersilaturahmi pun mengadakan open house di rumah. Kali ini, semua berbeda.

Malam lebaran. Setelah shalat magrib. Aku, suami, dan anak-anak berkumpul untuk menggemakan takbir.

Allaahu akbar Allaahu akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd

Allaahu akbar Allaahu akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd

Takbir terus menggema. Hatiku meringis. Ada ribuan sesak menyemut. Menghadirkan kenangan saat bersama keluarga, kenangan saat aku bisa menikmati duduk bersama di mesjid, di lapangan. Berkumpul untuk merayakan hari yang sama. Hari kemenangan untuk semua umat muslim yang telah berpuasa sebulan penuh.

Semua kenangan itu berkelebat begitu saja. Mengiris-iris dunia nyata yang tak bisa kupungkiri. Walau hanya sekejap. Walau hanya untuk hari ini saja. Hari di mana semua berharap bisa bersuka cita dalam tatap dan derai tawa bersama-sama.

Sayang, semua pupus dengan apa yang harus dijalani kini. #Stayathome. Ya, aku mesti di rumah saja, anak-anak dilarang turut turun.

Hati mana yang tak menangis? Berada di tanah rantau lantas tak jua bisa pergi bersilaturahmi meski hanya ke sebelah rumah. Semua membuat derai tawaku berganti derai air mata.

Malam tadi selepas magrib. Aku, suami, dan anak-anak nyatanya harus #berdamai dengan segala keinginan untuk mengikuti hasrat rindu juga kenangan tahun-tahun yang lewat. Ya, #berdamai menghadapi kondisi sekarang adalah pilihan terbaik. #Berdamai untuk tak mengeluh, tak menyerah, tak putus asa. #Berdamai dengan lisan yang terus mencaci. #Berdamai dengan keluh lalu pada akhirnya syukur mesti terpanjat.

Aku tak bisa membendung air mata. Suami dan juga anak-anak. Ya, anak-anakku (9 tahun) untuk si sulung, (6 tahun) anak kedua, dan (3 tahun) anak ketiga. Masing-masing kepala mereka bergantian berbaring di pahaku dan suami lalu kami saling memeluk satu sama lain.

Lebaran kali ini sungguh berbeda. Hanya ada suara dan gambar bergerak layaknya menonton televisi. Aku tak bisa merangkul mereka nun jauh di sana. Hanya sekadar suara dan rupa yang itu pun kadang terputus dan hilang karena signal yang down. Lantas haruskah aku berputus asa dan turut mengatakan #terserah?

Rasanya itu merupakan kata lain dari putus asa. Sebuah rasa yang seolah menyatakan bahwa rahmat Tuhan tak ada lagi. Bahwa rahmat-Nya tak mungkin hadir untuk memperbaiki semua. Aku takut. Takut akan keputus asaan. Rasa yang menghancurkan segala pertahanan bahkan mampu merebak ke hati-hati mereka yang telah lelah.

Tidak!

Aku memang bersedih bahkan sesak karena tak bisa berkumpul dengan keluarga. Aku hanya bisa menangis membayangkan ini dan itu. Seandainya begini dan begitu. Lalu aku berhenti. Berhenti pada pengandaian yang tak berujung. Khayalan yang sekadar imaji. Aku berhenti.

Lalu tangis kucukupkan pada ampunan. Tangis kucukupkan pada pengharapan akan terhapusnya segala dosa. Tangis kucukupkan pada panjatan syukur bahwa kenyataannya ada banyak hal yang belum disyukuri.

Hari-hari dan hatiku sungguh gerimis. Apalagi mendengar ucapan sang sulung, ” lebarannya kok nggak terasa, nggak seperti lebaran.”

Ah, kata-kata polosnya kembali menyentak pikiranku. Aku manusia biasa sama seperti kebanyakan orang yang rela berjejalan di pasar demi membeli sekilo dua kilo daging atau mereka yang berjejalan di toko-toko baju, mematut-matut diri dan juga anak-anak yang masih polos lalu berkata, “wah, baju ini bagus.”

“Nak, kamu pilih yang mana. Ini bagus, itu juga bagus. Ayo, dipilih mumpung lagi diskon.”

“Mumpung ada THR.”

Bla bla bla….

Aku sama seperti kebanyakan orang yang menggunakan selembar kertas berisi surat sehat untuk bisa mudik pun pulang kampung. Aku sama seperti kebanyakan orang, sama pada keinginan mereka untuk punya baju baru dan berkumpul bersama keluarga di kampung. Keinginanku sama seperti mereka. Namun, ada yang membuatku berbeda yaitu keputusanku untuk tetap #stayathome. Tidak mengatakan #terserah dan memilih untuk bertahan di tanah rantau. Meningkatkan imun tubuh sendiri, mengenakan masker jika terpaksa keluar rumah dan segera mandi setelah tiba di rumah.

Menjaga kebersihan diri, rumah, dan lingkungan kupilih walau jika mau, aku bisa saja pulang dengan mobil menempuh 8 hingga 12 jam perjalanan. Tapi, tidak! Aku tak memilih itu. Aku menghargai mereka yang berjuang di garda depan dengan tak menambah lagi korban. Aku sayang keluargaku di sana, karena jika kenekatanku menempuh perjalanan itu dilakukan lantas ada yang turut serta bergelayut di tubuh, ah, tak bisa kubayangkan.

Tak terbayang jika ada yang menderita karena aku sebagai carier. Lalu Anda dan siapa saja, masihkah menjadi warga #terserah. #Terserah mau jadi apa dan #terserah mau terjadi apa saja.

Tidak! Bukan #terserah itu yang diharapkan, karena manusia hingga akhir hayat adalah pembelajar sejati. Belajar pada semua pengalaman dan menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya. Semangat. Ada banyak hal positif walau hanya di rumah saja.

#Indonesiaoptimis #stayathome

0Shares
%d blogger menyukai ini: