Jejak Artikel Jejak Literasi Nonfiksi

Kisah Una, Si Gadis 3,3 Tahun yang Memilih Berpuasa

“De, makan, ya,” tawarku pada gadis berambut keriting gantung di depanku.

“Nggak mau!” jawabnya sambil berlalu dan meneruskan permainan legonya.

Aku pun turut mengikutinya dari belakang. Merayunya kembali agar mau makan dan duduk di dekatnya sembari menemani bermain.

“De, makan, ya. Kan Ade belum makan.” Kulihat reaksinya. Masih sama.

“Nggak mau! Una mau sama ayah,” jawabnya lagi.

“Kenapa?” Kali ini aku memilih bertanya dibanding memintanya kembali untuk makan.

“Una mau makan sama ayah.”

“Iya, kenapa sama ayah. Ayahkan pulangnya sore atau nanti mau magrib. Kelamaan Ade nunggu. Perutnya keburu lapar,” kataku sambil memegang perutnya.

“Iya, Una nunggu ayah. Nanti ayah suapin Una.” Ia masih berkeras dengan pendiriannya.

Namanya Una. Begitulah panggilan kesayangan kami. Usianya baru 3,3 tahun, tapi ia memilih untuk turut puasa bersamaku, suami, dan kedua kakaknya. Si Aa yang sebentar lagi berusia 9 tahun dan si Abang yang baru saja berusia 6 tahun.

Ya, anak pertama dan kedua memang terbiasa puasa sejak usia empat tahun. Puasa bukan sekadar setengah hari lalu berbuka, melainkan memang puasa sehari penuh.

Kembali kutawari anak ke tigaku makan dan minum. Jawabannya tetap sama. Tidak mau. Maka kujelaskan kepadanya. “De, kalau mau puasa, sahur dulu. Ade kan malam tadi tidak sahur. Kasihan perutnya. Memang Una nggak lapar, nggak haus?”

Gadis kecilku hanya diam menatap wajahku yang terus mencari keyakinan pada dirinya.

“Mau susu.” Oke fix. Akhirnya ia mau minum susu dan itu sudah pukul sebelas siang.

Aku senang ia mau berpuasa. Memahami bahwa puasa itu tak makan dan tak minum, tapi aku juga tahu bahwa untuk berpuasa ia perlu persiapan.

“Una besok mau puasa?” Gadisku mengangguk. “Kalau mau puasa, Una harus bangun dulu sahur, ya. Makan nasi dan minum susu.”

“Iya.”


Satu hari tanpa nasi. Itulah awal mula ia ingin puasa, di hari ke sepuluh. Merasa senang saat makan bersama di atas tikar. Disuapin ayahnya yang seharian tidak di rumah karena bekerja dan aku yang memang fokus pada si kecil–baby born berusia dua bulan. Jadi, saat berbuka ketiga anakku diurus oleh ayahnya.

Hari kedua Una ingin puasa. Trpat di Ramadan ke-12. Sahur pun dibangunkan dan makan nasi empat suap saja. Siangnya ia benar-benar tak ingin makan dan minum.

Aku berkali-kali menawarkannya untuk makan minum, ia tetap tidak mau.

“Una mau makan sama ayah.” Itu artinya ia tidak mau makan dan hanya ingin makan saat berbuka.

Asyik bermain dan iseng membuka kulkas. Si Ade melihat jajan malkits-nya dan menggigit sedikit.

“Bunda, Una makan jajan malkist,” lapor si Abang.

Bergegas kutawarkan kepadanya makan dan minum. Ia hanya menyetujui meminum susu.

Usai minum susu si Ade berkata, “Una puasa lagi.” Aku tersenyum mendengarnya.

“De, kalau puasa itu nggak minum dan makan. Nggak minum susu, nggak makan jajan. Jadi, bukan cuma nggak makan nasi. Kalau Una mau puasa seperti Aa dan Abang, coba lihat! Aa dan Abang kan nggak minum dan makan apa-apa.” Lagi-lagi gadis itu diam menatapku.

Entah apa yang menari-nari di pikiran Una. Yang jelas hari ini, di puasa ke-13 setelah sahur beberapa suap nasi dan segelas susu, gadis kecilku sama sekali tak mau makan dan minum.

Gadis 3,3 tahun ini benar-benar berpuasa. Tak sedikit pun tampak lemas, tak sedikit pun ia mengeluh atau meminta makan dan minum. Yang ada hanyalah aku yang terus menawarinya makan dan minum.

Lalu manakala jawabannya tetap tidak mau. Aku selalu berucap takbir dan takjub. Betapa ia, gadis kecilku mengajarkan akan puasa itu tanpa keluh. Malu jika harus mengeluh dan kalah dengannya.

Hari ini Una berpuasa hingga tulisan ini selesai kutulis. Di sore hari mendekati waktu ashar kukembali bertanya sembari menemaninya bermain lego.

“Una, kue nanti ada donat. Una mau?” Ia menggeleng. “Una nanti mau makan pas buka, ya.” Ia mengangguk. “Una mau makan apa buka puasa nanti?”

“Donat dan teh,” jawabnya tegas.

Kubiarkan ia melanjutkan puasa hingga ia yang meminta kelak untuk makan atau minum. Tugasku sekarang memastikan ia baik-baik saja. Mendoakan yang terbaik untuknya.

Terimakasih, Sayang. Bunda tak tahu bagaimana kondisi lambungmu sekarang. Yang jelas Bunda percaya semua karena kehendak-Nya. Melihat kau segar bugar seperti ini, aku yakin kau baik-baik saja.

Terimakasih, ya Allah kau titipkan kepadaku anak yang luar biasa. Semoga engkau selalu menjalankan perintah-Nya dan mendapat ridha-Nya, Nak. Aamiin.

Samuntai, 6 Mei 2020

#RamadanditengahpandemiCorona.
#Stayathome

jejakme/walidahariyani

0Shares

(1) Komentar

  1. […] Kisah Una, Si Gadis 3,3 Tahun yang Memilih Berpuasa […]

%d blogger menyukai ini: