Jejak Artikel Jejak Literasi Tema Ditentukan WCR

Kapan Corona Akan Berakhir?

Pertanyaan ini mengalir deras di setiap lini darah setiap orang. Ya, siapa yang tak ingin pandemi ini segera berakhir? Bahkan meski ada manusia super yang tahan tebas, pasti berharap pandemi ini hilang dari semesta. Pun tak lepas mereka yang sekarang memadati setiap titik tempat dengan alasan apa pun.

Pertanyaannya sebelum kita bertanya kapan corona akan hilang adalah sudahkah kita berusaha untuk menghilangkannya?

Jika jawabannya sudah, maka yakinlah corona akan segera hilang. Namun, jika belum. Maka jangan sesekali bertanya kapan corona akan hilang.Bukankah pertanyaan itu hanya sebuah kesia-siaan belaka.

Corono itu bukan jin yang tinggal dijentik jari akan muncul juga hilang. Bukan pula jaelangkung, datang tak diundang dan perginya juga tak perlu diantar.

Ia makhluk nyata yang menebar di mana-mana, bedanya ia begitu kecil dan mata kita tak mampu melihatnya.

Berapa banyak sudah keluh paramedis yang harus berada di garis depan? Ada keluarga kecil mereka yang begitu khawatir setiap mereka bertugas. Pun mereka yang berjatuhan satu per satu karena makhluk kecil ini.

Berapa banyak anak-anak mengeluh bosan karena belajar di rumah? Apalagi ditambah dengan orangtua yang menemani mereka belajar dengan cara yang lebih killer dari guru killer di sekolahnya. Atau dengan orangtua yang juga bingung hendak mengajar seperti apa. Bukankah pelajaran anak zaman now dengan orangtua zaman dulu berbeda? Lalu aksi garuk-garuk kepala dilakukan.

Berapa banyak pengangguran tercipta karena kehilangan sumber mata pencaharian? Baik mereka yang biasa berdagang ini itu, kehilangan pangsa pasar, menurunnya pendapatan membuat mereka harus banting harga atau malah gulung tikar.

Berapa banyak orang ‘baik-baik’ yang ‘terpaksa’ menjadi orang jahat demi sesuap nasi. Ah, miris. Betapa perut-perut kosong membuat manusia lupa akan Tuhan-Nya.

Berapa banyak pelaku-pelaku ‘ngeyelan’ yang bertebaran, tak peduli akan keselamatan sesama dan membiarkan semua berjalan apa adanya. Bukankah hidup dan mati manusia sudah ditakdirkan kapan dan di mana? Kira-kira mungkin itu yang ada di kepala mereka atau bisa jadi tidak ada. Hanya sebuah ketidak acuhan saja.

Elo, elo, gue, gue. Yang jalan gue yang sakit elo. Yang sakit gue yang repot elo. Yang sakit elo emang gue pikirin. Yang sakit gue mau apa elo.

Pemikiran-pemikiran ini kerap berkembang di jiwa-jiwa yang egonya lebih besar dari apa pun. Bercokol pada hati yang dunia penuh di dalamnya.

Tetap berkeliaran tanpa usaha menjaga dan membatasi diri. Lalu orang-orang yang berusaha menjaga dirinya seolah menjadi seorang pecundang. Terbalik. Dunia memang banyak terbalik pola pahamnya.

Dunia ini tercipta berpasang-pasangan, apa pun itu. Kanan kiri, pria wanita, atas bawah, pro kontra. Maka, satu yang harusnya kita yakini bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Dia Sang Maha Sempurna.

Ada yang bilang kami yang terbaik, telah melakukan banyak hal ini dan itu. Lantas semua amalannya berhenti pada puja dan puji manusia. Bukankah itu yang diinginkan? Agar semua orang tahu kita telah berbuat ini dan itu.

Ada yang bilang ‘dia’ atau ‘mereka’ tak becus dalam hal ini dan itu. Lantas kata-kata ketidak sukaan itu menebar ke mana-maba. Menancap pada hati-hati yang seirama lalu melukai hati yang tak senada. Terjadilah ‘saling’. Saling caci, saling hina, dan saling-saling lainnya yang bisa jadi berujung pada hal yang lebih buruk.

Hati menjadi kotor, perpecahan terjadi, lalu rahmat Tuhan semakin menjauh.

Rasulullah bersabda, “orang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, bukan pula orang yang suka melaknat, bukan orang yang berkata keji, dan bukan pula orang yang suka berkata kotor.” (H.R. Tirmidzi).

Kita kadang larut dalam kesibukan dunia, merasa diri paling benar lalu merendahkan orang lain yang tak sesuai keinginan diri. Bisa jadi benar secara fakta, namun tetap manusia beriman tetap menjaga lisannya dari setiap perkataan buruk.

Satu, dua, tiga orang bahkan beribu dan berjuta berkata buruk, maka alam akan menangkap ribuan bahkan jutaan keburukan di dalamnya, lantas mengembalikan lagi kepada kita.

Berapa banyak keluh, caci menghinggapi hati dan lisan, maka itulah yang akan memenuhi diri kita. Lantas sebagiannya menjadi habis untuk hal yang tak bermanfaat.

Bagaimana jika setiap keluh diganti syukur? Bagaimana jika setiap caci diganti inspirasi? Bagaimana jika setiap keputus asaan diganti optimis? Bagaimana jika saling menyalahkan diganti saling mendukung?

Jika semua hal negatif berganti positif, maka jawaban dari pertanyaan di atas, “kapan Corona akan berakhir adalah saat ini juga”

Saat hati kita menjadi satu, tak peduli berasal dari mana kita, tingkat pendidikan, jabatan, jumlah kekayaan, dan apa saja. Tak ada lagi pro dan kontra yang ada hanyalah Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan yang bisa jadi ‘hampir musnah’ ditelan zaman.

Pertanyaan terakhir adalah sudahkah hati kita menjadi satu? Satu untuk mengikis habis yang namanya corona dari muka bumi.

Salam santun dari tanah Kaltim

jejakme/walidahariyani

0Shares

(1) Komentar

  1. […] Artikel SebelumnyaKapan Corona Akan Berakhir? […]

%d blogger menyukai ini: