Jejak Literasi Nonfiksi Tema Bebas WCR

Hamba Sahaya yang Derajatnya Dinaikkan Karena Alquran

Hujan masih mengguyur tanah Paser sedari siang tadi. Ini malam adalah malam ketiga aku menjalani LDR. Ketiga anakku telah lelap bersama nyanyian para kodok yang gembira menyambut hujan. Si baby yang belum mengantuk menemaniku merenda kata berirama rintik hujan di luar sana. Udara dingin membuatku mengantuk, tapi apalah daya nyatanya kantuk ini harus ditahan hingga si baby terlelap.

Biasanya jika kantuk sudah tak tertahan, lelakiku di 1.500 km itu akan menggantikan sementara menjaga si baby hingga terlelap. Kini semua harus bisa kutahan, maka kitab setebal 700-an halaman menemaniku malam ini.

Kubuka acak halaman kitab ini, kudapati kutipan hadist ke-7 darinya.

“Dari Umar bin Khattab r.a., Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan Alquran ini dan merendahkan yang lainnya dengannya pula.” (HR.Muslim)

Entah kenapa aku sejenak terpaku membacanya. Pemahamanku yang begitu awam akan arti hadist ini membuatku berdecak kagum. Betapa luar biasanya Alquran, lalu bagaimana caranya kitab suci ummat muslim itu mampu mengangkat derajat manusia atau pun suatu kaum?

Kulanjutkan membaca baris demi baris kata selanjutnya. Bukankah pemahaman manusia sungguh terbatas? Apalagi jika hanya berhenti pada satu fase dan tak acuh untuk hal lainnya. Aku tak ingin menebak-nebak karena ini bukan permainan teka-teki. Aku juga tak ingin meraba-raba karena kitab ini menyediakan lampu untuk kubisa melihat maksudnya.

Rasulullah mengatakan bahwa banyak orang munafik membaca Alquran dan orang dzalim membaca Alquran. Lalu aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku termasuk orang munafik ataukah dzalim? Ah, ada nyeri dan rasa takut. Bukankah terkadang manusia merasa telah melakukan yang terbaik? Padahal nyatanya tidak.

Ada banyak orang munafik dan dzalim membaca Alquran, namun yang mereka dapatkan hanyalah sebuah laknat dari Allah. Mengapa? Karena sejatinya mereka telah melaknat diri mereka sendiri. Dalam Alquran telah jelas bahwa orang munafik akan begini dan begitu. Orang dzalim akan begini dan begitu, tapi meski mereka membaca Alquran, nyatanya Alquran hanya dijadikan mereka sebuah bacaan tanpa memahami makna, tanpa meresapi artinya, tanpa mengamalkan isinya. Maka di sinilah Allah menyatakan bahwa Alquran merendahkan manusia.

Aku tak tahu, apakah aku termasuk orang munafik, dzalim ataukah mereka yang jika membaca Alquran derajatnya akan diangkat. Dunia atau akhirat.

Pernah aku bertanya, ketika mendengar seseorang memilih untuk menjadi penghapal Alquran. Bagaimana mereka bisa hidup dan menghidupi diri sendiri juga keluarga dengan Alquran? Pelan namun pasti, Tuhan sedikit demi sedikit membuka tabir pemahamanku.

Amir bin Watsilah r.a. berkata bahwa Umar r.a. mengangkat Nafi’ bin Abdul Harist r.a menjadi walikota Mekkah.

Suatu ketika Umar bertanya kepada sang walikota, “siapakah yang akan engkau jadikan pengurus untuk kawasan hutan, wahai Nafi’ bin Abdul Harits?”

Sang walikota menjawab mantap dan penuh percaya diri. “Ibnu Abza r.a.”

“Siapakah Ibnu Abza itu?” Umar bertanya.

“Ia adalah seorang hamba sahaya, wahai Umar.”

Sontak Umar terkejut. Bukankah seorang hamba sahaya kedudukannya di mata manusia berada di tingkat bawah. Lalu mengapa Nafi’ mengajukan namanya sebagai seorang pengurus kawasan hutan.

“Mengapa engkau mengangkat seorang hamba sahaya sebagai pengurus?”

Maka Nafi’ dengan percaya diri menjawab, “karena ia adalah hamba sahaya yang senang membaca Alquran.”

Ya, Ibnu Abza begitu menyenangi rangkaian huruf demi huruf dalam Alquran. Jadi, bukan hanya sebatas rajin membaca kitab yang diturunkan di bulan Ramadhan ini, melainkan senang membacanya. Bukankah ketika hati senang maka semua terasa ringan dan energi positif mengalir deras?

Aku pun kemudian berandai-andai di balik pertanyaan-pertanyaan yang bergelimpangan. Kupungut satu per satu.

Tak ada hamba yang akan menderita karena memilih Alquran dalam hidupnya. Lantas mengetahui hal itu, hatiku tersengat. Betapa banyak waktu tak kugunakan untuk berkencan dengan Alquran. Betapa banyak masa ini habis untuk hal yang sejatinya hanyalah fana.

Oh, adakah di zaman sekarang manusia menaiki suatu jabatan karena terpilih oleh sebab rajin membaca Alquran? Entah ada atau tidak. Jelasnya Alquran benar-benar meringankan hati, melapangkan dada.

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: