Jejak Literasi

Doa Bocah Kecilku yang Menggetarkan Qalbu di Tengah Pandemi yang Belum Berakhir

Sebelum Ramadhan datang, masyarakat di seluruh penjuru dunia telah digemparkan oleh makhluk kecil bernama covid-19.

Rasa sedih mengisi relung hati, karena pandemi ini berdampak hebat bagi seluruh ummat manusia. Termasuk dalam hal beribadahnya ummat muslim di bulan ramadhan yang biasa berjama’ah di mesjid-mesjid untuk melaksanakan tarawih.

Tentu semua kita tak ingin pandemi ini berlarut-larut. Banyak juga yang berdoa semoga pandemi ini segera berakhir. Namun, ada juga yang baru tersadar setelah korban berjatuhan dan benar-benar mengira bahwa kita tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Tidak hanya orang tua yang tahu tentang masalah corona atau covid-19 ini. Anak-anak kecil pun juga terinformasikan tentang masalah ini kepada mereka. Terutama bagi anak-anak usia sekolah. Ada yang mengeluhkan kegelisahannya karena tidak bisa hadir ke sekolah dan hanya belajar di rumah, tidak bisa bertemu teman-teman dan bermain bersama.

Tidak terkecuali putraku yang berusia 6,5 tahun. Dia tahu corona itu berbahaya. Dia tahu banyak orang-orang tidak bisa leluasa ke mana-mana dengan tanpa alat pelindung diri. Dia juga tahu bagaimana kita semua harus menjaga diri dan keluarga dari virus ini. Terlebih aku juga menginformasikan kepadanya. Bagaimana tata cara ikhtiar agar kita terhindar dari virus corona ini, termasuk social distancing.

Di bulan penuh berkah ini, dia menyambut Ramadhan dengan suka cita. Tidak hanya kita yang merasakan bahwa Ramadhan tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun kemarin. Ramadhan tahun ini kita semua disibukkan dengan pandemi yang mewabah. Terutama mereka-mereka yang berada di garda depan.

“Nak, Ramadhan kali ini kita tarawih di rumah saja, Sayang. Kita nggak boleh kumpul-kumpul banyak orang walaupun di mesjid,” jelasku kepadanya.

Dia tidak bertanya kenapa. Diamnya yang penuh makna menjelaskan apa yang terjadi. Pasti karena dampak corona seperti yang orang-orang bilang itu. Tampak juga raut kesedihan di wajahya. Seolah mengatakan. “Ini, kok, bisa jadi begini? Ke mana-kemana jadi ribet. Pulang rumah pun juga ribet.”

“Terus, Ammar tarawih sama siapa, Mi?” tanyanya kemudian.

“Sama Ummi,” jawabku dengan sigap dan meyakinkan.

“Emang Ummi bisa?” tanyanya lagi.

“In syaa Allah, “jawabku.

“Mari kita manfaatkan momen Ramadhan ini dengan berdoa kepada Allah yang khusyu. memohon ampun kepada-Nya dan jangan lupa berdoa semoga Allah mengangkat masalah wabah yang menimpa kita saat ini.”

Dia mengangguk dan menyimpan sejuta harap terlihat dari binar matanya.

Sejak perbincangan kami waktu itu. Setiap di akhir shalat dia selalu tampak khusyu dengan mengangkat kedua tangannya ke langit dan mulut yang komat-kamit. Sebagian terdengar olehku. Banyak sekali permintaannya. Kadang ada permintaan yang menggelitikku, lucu tapi dia tetap serius dengan doanya dan selalu dia sisipkan doa agar virus corona ini diangkat oleh Allah. Aku pun mengaminkannya.

Hingga tepatnya di malam 27 Ramadhan. Ba’da tarawih ada doa yang benar-benar membuat hati ini bergetar dan air mataku merembes.

Suara parau itu terdengar jelas olehku yang berada tepat di sampingnya. Sungguh doa-doanya selama ini perwakilan dari lubuk hatinya yang sedih dan punya ingin.

“Ya Allah, Ammar sedih. Bentar lagi kata Ummi Ramadhan berakhir, tapi corona masih ada. Kami semua hanya bisa shalat di rumah.

Ya Allah, sebentar lagi lebaran, tapi corona juga masih ada. Ammar ingin Ramadhan seperti dulu. Ammar ingin shalat tarawih di mesjid bersama om. Ammar ingin ikut om salat hari raya di mesjid. Ammar ingin hari raya ramai lagi, bisa mudik dan jalan-jalan ke tetangga. Ya Allah, Ammar ingin tahun depan Ramadhan dan hari raya tidak seperti ini lagi, Aamiin.”

Maa sya Allah, air mataku benar-benar meleleh.

“Semoga Allah mengabulkan doamu, Nak. Semoga Allah memanjangkan umur kita hingga bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan di tahun berikutnya.Teruslah berdoa walaupun Ramadhan berakhir, ya, Sayang,” pintaku sembari memeluk dia dengan bangga.

๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kulla โ€˜amin wa antum bikhoir.โ€

“Semoga Allah menerima (puasa) kita dan setiap tahun semoga kita senantiasa dalam kebaikan.”

Aamiin.

jejakme/rusminiummuhuwaida

0Shares
%d blogger menyukai ini: