Fiksi Jejak Literasi

Bukti Terakhir

Cerpen by Walidah Ariyani

“Lapor! Tersangka pembunuhan berencana telah berhasil dibekuk.” Lelaki yang memberikan laporan itu berdiri tegak. Di hadapannya lelaki lain menatapnya sekilas kemudian kembali sibuk dengan map di tangannya.

“Terima kasih. Laporan diterima. Segera amankan semua bukti dan bawa ke ruang pemeriksaan!”

“Siap!” Lelaki itu tampak keluar ruangan dengan tergesa.

Angin bertiup semakin kencang. Lelaki itu berdiri menekan tombol kipas angin ke nomor satu. Harapannya pasti karena ingin menambah kekuatan angin yang menghalau panas di ruangannya. Semua karena AC yang tepat berada di atas kepalanya mati. Lelaki itu kerap mengeluh dan kemarin ia membentak petugas servis AC karena dinilainya lamban dalam bekerja. Nyatanya pendingin udara itu tetap tak berfungsi.

Brak!

Meja dihentak kuat tangan kekar lelaki berseragam itu. Penjaga ruangan dan staf yang sedang menyusun berkas di sampingnya tampak terkejut. Meski sebenarnya mereka sudah biasa dengan hal itu. Namun, kali ini mereka menangkap ada emosi kuat yang bersarang di balik kepalan tangan itu.

Sepuluh menit.
Lelaki itu telah berada di ruang pemeriksaan bukti-bukti tersangka. Ia begitu gusar. Berkali ia mondar-mandir tak keruan. Tangannya mengepal di belakang. Bahkan urat-uratnya mengencang.

“Lapor, Pak!” Lelaki yang tadi datang melapor di ruangannya telah kembali. Di tangannya terdapat setumpuk map-map yang entah apa isinya selain kertas-kertas putih.

Di belakangnya menyusul seorang lelaki. Oh, bukan. Dua orang lelaki membawa bukti yang tadi diminta. Tentu saja semua terbungkus rapi dalam plastik khusus agar sidik jari sang pencari dan pemeriksa bukti tidak menempel di sana.

Lelaki itu berdiri sigap. Menatap nanar satu per satu bukti yang diajukan kepadanya. Napasnya menderu. Senyap. Semua berdebar menunggu. Bahkan detak jantungnya bersaing dengan detik-detik waktu yang tak mau berhenti.

“Apakah semua bukti telah benar dikumpulkan?” Nada suaranya menurun. Lebih kepada putus asa atau ….

“Apakah semua bukti sudah terkumpul? Se-mua!” Suara itu layaknya tsunami yang tiba-tiba datang melantakkan ketenangan.

Semua berdiri tegak, tapi tak berani menatap mata yang kini berkobar. Jelas amarah telah bersarang di sana.

“Sudah, Pak!”

“Sudah?” Lelaki itu terkekeh. “Bahkan besok, mereka telah berhasil mengajak tersangka pesta.”

Senyap.

“Kita hanya punya waktu dua jam. Jika memang semua bukti telah terkumpul, pasti ada sesuatu di sini yang menjadi bukti kunci. Tajamkan mata kalian! Pusatkan pikiran dan segala kemungkinan!”

Satu per satu bukti kembali diperiksa. Berpuluh bahkan rasanya beratus kali mereka memeriksa benda yang sama. Hasilnya? Tentu saja sama. Namun, justru itulah biangnya. Harus ada hasil berbeda.

Seragam sekolah yang penuh bercak darah dan … berlubang. Tepatnya robek di sana sini. Lelaki itu meringis,  membayangkan luka yang diderita sang korban. Detak nadinya beralegro. Pasti.

Sepatu bertali. Tas selempang. Buku-buku sekolah. Pulpen berwarna biru. Dan … senjata pembunuh. Pisau lipat.

Habis.
Tak ada lagi bukti lainnya. Sayang, semua bukti itu ternyata bersih dari sidik jari pelaku. Lelaki itu mengernyit. Rahangnya mengeras. Semua data tertuju pada pelaku, tapi bagaimana bisa semua bukti terkumpul malah tak ada sidik jarinya.

Embusan napas begitu kuat. Mengempas impitan sesak di dadanya. Matanya kian nyalang. Tekadnya hanya satu, menemukan bukti kunci.

Jam dinding terus berdentang. Benda itu tak pernah mau kompromi bahkan sekadar menunda satu dua jam untuk bergulir. Udara kian pengap. Pendingin udara tak mampu menetralisir rasa yang membara.

“Baiklah. Jika sekali ini kita periksa lagi dan semua ternyata tidak sesuai dugaan. Maka ….” Tiga menit berlalu. Lelaki itu tetap bergeming. Tak ada lagi kata keluar, hanya tangannya yang bergerak memeriksa satu per satu bukti.

Tiba pada bukti terakhir. Tas selempang dengan paduan merah tua dan putih. Tepinya berhias hati berbeda ukuran. Besar kecil besar kecil dengan garis-garis serupa kertas buku. Hmm, warnanya serupa genangan darah yang membayang di kepala. Lagi-lagi lelaki itu bergidik dan mendengus marah. Bahunya bergetar.

“Apa ini?” Lelaki yang berada di depannya segera maju mendekat.

“Ini …, oh ini tampaknya selembar kertas, Pak. Saya pikir tadi ini hanya motif dari tas korban.”

Lelaki itu berdehem dan menggeram. “Segera periksa!” Antusias ia memerintah. Serupa menemukan mutiara di balik lumpur.

Tangannya bergetar memegang selembar kertas itu. Motifnya sempurna dan … memang darah berbentuk hati.

Kali ini kau tak akan bisa lari, bedebah! Hatinya berdentum penuh maki.

***

“Ayah, Kanya berangkat dulu, ya.” Gadis manis bergingsul itu memeluk lelaki berseragam dari balik pundaknya.

“Hati-hati, Sayang.” Kecup lelaki itu di dahi sang permata.

“Kanya ada janji dengan Ren, siang. Ya, Yah.”

Kening lelaki yang dipanggil ayah itu mengernyit. “Ren?”

“Iya, Yah. Dia kuliah di kampus dekat sekolah Kanya. Yang kemarin Kanya perkenalkan saat ulangtahun itu, lho!” Mata gadis itu berbinar terang. Apalagi kalau bukan cahaya cinta.

Saat cinta melanda, semua yang terucap tentangnya serupa bubuk pixie. Membuatnya menjadi apa saja. Melayang dan enggan turun.

“Hm, baiklah. Janji! Sebentar saja. Oke!” Gadis remaja itu mengangguk sembari berlari sambil berputar-putar riang.

“Kanya!” Meski mulai menjauh, gadis itu pasti mendengar suara bass memanggilnya.

“Iya, Yah!” Tanpa beranjak dari duduknya memasang sepatu

“Kau punya tas baru?” Sang ayah telah berada di sampingnya. Sama persis dengannya. Memasang sepatu.

Kanya memegang kedua sisi tasnya. Mengangkatnya sedikit dengan alis terangkat.

“Ini?”

“Iya.”

“Nggak, Yah. Ini tas Kanya yang dulu.”

Meski masih ragu, sang ayah kembali bersiap. Pekerjaannya di kantor menunggu. Sesaat ia melihat ada yang berbeda dengan tas puterinya. Apa itu? Entahlah.

***

“Benar sekali, Pak. Di salah satu gambar hati di kertas itu ada chip yang tersembunyi. Dan semua data mafia narkoba ada di sana. Termasuk … Ren.”

“Bagus!” Lelaki itu mengusap mukanya kuat. Ketegangan perlahan menguraikan urat-uratnya.

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: