Jejak Artikel Jejak Literasi Nonfiksi Quote

Bangkitkan Kreativitas Anak dengan Memberi Mereka Kepercayaan

“Jangan lari, nanti ketabrak ini itu.”

“Eh, Nak, jangan naik! Nanti jatuh.”

“Jangan main ini, jangan main itu!”

“Jangan ikut ke dapur, nanti kena api!”

“Jangan ikut nyuci, nanti kamu ngabisin air!”

Jangan dan jangan. Banyak larangan yang Ayah Bunda berikan kepada sang anak. Saat mereka hendak melakukan ini dan itu, Ayah Bunda kerap lebih dulu meresponnya dengan kata jangan dan nanti begini begitu.

Rasa khawatir. Itu yang sering dijadikan alasan Ayah Bunda ketika ditanya mengapa melarang mereka. Benarkah?

Tahukah Ayah Bunda? Kita tak selamanya bisa menemani mereka. Tak selamanya bisa mengawasi mereka di mana pun berada. Waktu 24 jam kita dan mereka tak pernah bisa selalu bersama. Lantas apa yang mesti dilakukan?

Alangkah baiknya Ayah Bunda mengajarkan, menjelaskan, membimbing, memberi contoh dan pemahaman atas apa yang mereka belum tahu, atas apa yang Ayah Bunda takutkan.

Ah, mana mengerti mereka walau dijelaskan. Kadang kita men-judge seperti itu.

Ayah Bunda. Mereka adalah anak dengan kecerdasan luar biasa. Mereka adalah peniru dan pembelajar terbaik. Pertanyaannya adalah siapkah Ayah Bunda meluangkan waktu untuk melakukan itu semua ataukah Ayah Bunda memilih waktu habis hanya untuk melarang, memarahi, dan menasihati mereka panjang lebar?

Inilah pengalaman saya dalam hal menjaga empat amanah Allah. Namanya Athiya (9y), Fayyadh (6y), Yumna (3y), dan Hanin (2m).

Di hari ke-10 dan 11 Ramadan, ada banyak pelajaran berharga yang dapat saya ambil dari mereka. Terutama ketiga anak saya tentunya, karena yang ke empat masih baby born.

Hari itu mereka meminta izin untuk membuat kue buka puasa. Sejenis dadar gulung yang isinya adalah cokelat dan keju.

Awalnya saya ragu akan kemampuan mereka, maka saya pun turut menemani dan membantu. Alhasil kue pun jadi tanpa warna dan cokelat berhamburan ke mana-mana. Lalu saya mulai memasang ceramah panjang untuk meminta mereka membereskan ini itu.

Keesokan harinya, mereka meminta izin lagi untuk membuat kue yang sama. Kali ini saya juga mengizinkan dan tidak menemani mereka berhubung si kecil tak mau ditinggal. Tak mungkin juga saya membawa si baby ke dapur kan.

Sebelum mereka mengeksekusi semuanya, saya menjelaskan lebih dulu.

“Kalau mau masak harus akur, saling bantu, karena kalau kalian berebutan atau berkelahi kue tidak akan jadi dan malah bisa jadi bahaya.”

Mereka bertanya kenapa?

“Karena kalian memasak dengan api. Kalau kena api kira-kira bagaimana rasanya?”

“Sakit.” Serempak mereka menjawab.

“Kalau mau menggunakan warna, cukup sedikit saja agar tidak pahit. Jika adonan terlalu kental tambah  air sedikit demi sedikit dan aduk setiap hendak memasukkan ke teflon.”

“Api sudah Bunda aturkan, jika terlalu besar nanti kuenya cepat gosong.”

“Selesai membuat, bersihkan semua dan kembalikan ke tempatnya.”

Ceramah agama selesai. Eh. Saya pun meninggalkan mereka ke kamar mengurus si kecil yang menangis ingin ASI.

Selang beberapa waktu.

“Bunda! Kuenya sudah jadi.”

Antusias mereka membawa sepiring besar kue warna warni disusun melingkar. Di atasnya bertaburan keju dan cokelat.

Jleb. Mendadak hati saya berdesir. Ada rasa takjub tak percaya bahwa itu hasil kreasi mereka. Ya, pemilihan warna, plating dan toping-nya nyaris sempurna untuk seumuran mereka yang sama sekali tak pernah diajari secara khusus tentang kuliner.

“Di dapur sudah bersih, Bun,” kata mereka lagi.

Hati saya gerimis bahagia. Hal ini membuat saya menyadari bahwa sebenarnya mereka mampu, hebat, dan luar biasa. Cukup beri mereka sedikit kepercayaan, maka akan Ayah Bunda dapati sesuatu yang membanggakan dari mereka.

Maka, cukuplah Ayah Bunda mendikte mereka, seolah anak-anak tak akan bisa tanpa orangtuanya.

Ingatlah sebuah kisah ini;

“Bu, jika ada nyamuk hendak menggigitku, apakah ibu akan memukulnya untukku?”

“Tidak!” jawab tegas sang ibu.

Sang anak terkejut dan merasa ibunya tak sayang kepadanya. Ia murung dan hendak menangis.

“Kenapa, Bu? Apakah Ibu tak sayang padaku?”

“Karena Ibu sayang kepadamu, maka ibu akan mengajarkan kepadamu bagaimana caranya memukul nyamuk. Jika saat ini Ibu memukul nyamuk itu untukmu, besok, lusa dan hari selanjutnya Ibu belum tentu bisa terus menjagamu. Kamulah yang bisa menjaga dirimu sendiri, jadi Ibu mengajarkan kemandirian kepadamu.”

Sang anak memeluk ibunya. Ternyata apa yang tampak salah di mata ternyata sebuah kasih sayang orangtua untuknya.

Sekianlah kisah di atas. Ayah Bunda, jagalah titipan-Nya yang begitu berharga ini dengan banyak ilmu, karena hanya ilmu yang dapat terus menyertai kehidupan mereka sampai akhir hayat.

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: