Jejak Literasi Tema Bebas WCR

Aqiqah di Tengah Pandemi Corona

Tanggal 22 bulan 2 tahun 2020. Di angka cantik tersebut lahirlah putri ke empat saya di tanah Grogot, Kalimantan Timur.

Sebagaimana orang tua lainnya, ada banyak rencana yang hendak dilakukan pasca melahirkan. Salah satunya adalah mengadakan acara tasmiyah alias pemberian nama juga aqiqah.

Seminggu setelah melahirkan, saya telah bertanya-tanya tentang harga kambing dan membuat planning apa saja yang dimasak, hendak mengundang siapa, berapa jumlah undangan, konsep acara seperti apa, siapa saja yang akan ikut membantu pelaksanaan, pastinya hal mendasar adalah berapa budget yang akan digunakan.

Hari demi hari berlalu, suami saya mendapat kabar akan ada dinas kerja ke luar provinsi. Alhasil, persiapan acara pun ditunda dulu. Saat itulah kabar corona mulai beredar dan kebetulan juga dinas kerja ke luar dibatalkan.

Konsep acara berubah dari acara aqiqah yang direncanakan sama seperti anak ke dua dengan mengundang banyak orang, berganti dengan wirid yasin biasa.

Rencananya aqiqah dan tasmiyah hanya diadakan sederhana dengan membaca yasin, shalawat, lalu masuk ke acara inti.Jumlah undangan telah disepakati, rencana kue yang dipesan berapa jumlah dan kepada siapa sudah oke diatur, peralatan memasak sudah deal direncanakan hendak pinjam ke grup wirid yasin di daerah terdekat tempat saya tinggal, berapa jumlah menu, konsep penyajian dan sebagainya. Semua telah diatur rapi.

Hari berganti, kami mendapat himbauan untuk tidak mengadakan acara kumpul-kumpul jenis apa pun di sekitar tanah Paser. Baik perkawinan, khitanan, aqiqahan, termasuk juga wirid yasin.

Yang melanggar tentu akan ada kompensasinya. Acara pun berubah lagi. Ada banyak rencana dicoret.

Hasil terakhir adalah memasak satu ekor kambing, acar, sambal goreng, dan kerupuk. Sajian prasmanan diganti kotakan, kue yang rencana dipesan dibatalkan, untungnya memang saya belum telanjur berbicara dengan sang pembuat kue, pun pengurus wirid yang menjaga peralatan memasak, juga grup shalawat.

Acara berubah menjadi lebih simpel. Aqiqahnya anak ke empat saya, hanya mengundang satu orang ustadz ke rumah. Sisanya hanyalah keluarga dekat yang saya jumpai di perantauan.

Suami membeli satu biji semangka, dua puluh kue, sedangkan bapak mertua membuat sedikit bubur merah putih.

Acara dimulai, setelah mengucapkan salam, pak Ustadz mulai membaca doa, penebalan nama kemudian diteruskan dengan memotong rambut sambil si baby di bawa berjalan berkeliling membaca shalawat.

Selesai. Ya, acara aqiqah hari itu selesai. Setelah menyantap kue sederhana dan semangka yang tersaji, dilanjutkan obrolan ringan sebentar, berlanjut membagi kotakan ke rumah-rumah.

Lega. Itulah yang dirasakan oleh saya dan suami. Ya, apa pun bentuk acaranya, kami telah tenang karena aqiqah sang anak telah tunai. Tak ada hutang dan namanya tak lagi tergadai di hadapan-Nya. Sungguh kebahagiaan sederhana ini begitu indah.

Oh, iya. Untuk bubur merah dan putih ketiga anak saya sangat menyukainya, terutama yang berwarna putih. Gurih katanya. Sampai-sampai mereka menagih minta dibuatkan lagi kepada bapak mertua yang memang pintar masak.

Segala rencana, sebaik apa pun manusia membuat konsepnya, jika Allah tak menghendaki maka tak akan pernah terlaksana.

Saya pun merasakan demikian, toh nyatanya kebahagiaan dan kepuasaan itu tidak berdasar pada mewah dan wahnya sebuah acara. Tapi, lebih kepada penyerahan diri kita sepenuhnya kepada Sang Maha yang telah memberikan segala nikmat-Nya. Doa khusyu yang terlantun dari keikhlasan hati.

Semoga kelak engkau, Nak, menjadi anak yang selalu dalam naungan dan ridha-Nya. (Aqiqah : Hanin Hanania Anwar 22022020)

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: