Jejak Literasi

Apa pun Kelak Profesimu, Tetaplah Jadi Orang Saleh

Bismillahirrahmaanirraahiim

Kalau sudah besar nanti kamu mau jadi apa?

Itulah pertanyaan yang lumrah. Pertanyaan yang sering kita lontarkan kepada anak-anak kecil. Kemudian mereka akan menjawab ada yang ingin menjadi dokter, guru, polisi, insinyur, pilot dan sebagainya.

Tidak terkecuali putraku, dia juga sama dengan anak-anak lainnya yakni, memiliki cita-cita. Namun, ada hal yang tidak biasa terdengar olehku. Bukan cita-cita aneh, sih. Maksudnya masih dalam tahap panggilan jiwa yang bisa berguna untuk sesama. Hanya saja cita-citanya berbeda dan tidak sama dengan cita-cita teman-temannya kebanyakan.

Sebelum aku menanyakan tentang tema cita-cita kepada putra putriku. Aku sudah memberikan info tentang keprofesian. Sehingga ada sedikit bayangan atau pengetahuan yang dapat merangsang keinginan mereka terhadap cita-cita yang ingin dicapai.

Perihal pembentukan jati diri yang islami tetap kudengungkan kepada mereka.

Kalau ingin jadi pilot, jadilah pilot yang saleh. Kalau ingin jadi dokter, jadilah dokter yang saleh. Kalau ingin jadi guru, jadilah guru yang saleh dan seterusnya.

Kecenderungan anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan adalah sebuah momen yang rasanya rugi sekali kalau terlewatkan. Termasuk perihal cita-cita.

Pada suatu hari di sekolah putraku. Satu persatu murid memperkenalkan dirinya dan diminta untuk menyebutkan cita-citanya. Hingga perkenalan itu sampai pada giliran putraku.

Dia menyebutkan, “perkenalkan nama saya Ammar Al Hanief, cita-cita saya ingin menjadi pemadam kebakaran.”

Maa syaa Allah, sontak semua tampak kaget karena tidak terdengar biasa. Di saat anak-anak lain ingin menjadi dokter, polisi dan insinyur. Dia malah tertarik ingin menjadi pemadam kebakaran.

Sepulang sekolah aku menanyakan alasan itu kepadanya.

“Ammar kenapa ingin menjadi pemadam kebakaran? Kenapa tidak menjadi dokter saja?”

“Karena pemadam kebakaran itu hebat, aku sering melihat Fireman itu di laptop umi,” jawabnya polos.

“Dokter juga pahlawan loh , dia membantu mengobati orang yang sakit,” timpalku.

“Pokoknya pemadam kebakaran itu hebat, seperti hero,” tegasnya sembari memeragakan tangannya seperti binaragawan.

Aku terkekeh melihat tingkahnya. Ternyata dia terobsesi jadi pemadam kebakaran karena melihat kartun Fireman yang memang sengaja aku download-kan sebagai tontonan yang aman untuknya.

“Emang kenapa, Mi? Nggak boleh, ya, Ammar jadi pemadam kebakaran?” tanyanya lagi.

“Boleh, Sayang. Pemadam kebakaran itu tugas mulia. Jadilah pemadam kebakaran yang sa …,”

“leh,” sambungnya dengan senyuman khasnya yang menampakkan gigi depannya yang bergerigi.

Cita-cita itu adalah keinginan profesi yang ingin disandang di masa depan. Kecenderungan itu di dukung oleh bakat-bakat yang dimiliki seorang anak, tapi jangan heran kalau keinginan dan cita-cita itu bisa berubah.

Jika hari ini seorang anak mengatakan ingin menjadi dokter. Besok-besok bisa jadi berubah ingin menjadi guru. Perubahan ketertarikan itu hal yang wajar, karena dia masih anak-anak dan belum mengerti sepenuhnya.

Setelah berlalunya hari bisa jadi dia semakin mengerti sebuah konsekuensi akan pilihan itu. Bisa jadi pula hanya karena keinginan semata tapi belum mengerti sepenuhnya akan konsekuensi profesi tersebut.

Hari berganti bisa jadi cita dan keinginan pun berganti. Latar belakang perubahan keinginan pasti ada. Sebagaimana Ammar yang dulunya sangat tertarik dengan heroiknya si Fireman, kini berubah cita-citanya yakni ; ingin menjadi si pembuat pesawat terbang.

Hal ini dikarenakan terlibat dialog dengan seorang kakek yang bertandang ke rumah karena ada suatu keperluan.

Kakek itu sangat pandai bercerita dan mengambil hati anak kecil. Entah apa yang diceritakan beliau sehingga putraku berubah cita-citanya dari pemadam kebakaran menjadi seorang pembuat pesawat terbang.

Maa syaa Allah. Ternyata dia tak memerlukan waktu yang lama untuk membuktikannya. Hari itu juga dia menghasilkan sebuah karya luar biasa dan menakjubkan. Pesawat terbang dari kardus.

Memiliki cita-cita tidaklah salah. Justru cita-cita sebagai penyemangat bagi seseorang untuk berusaha menggapainya. Tapi tatkala cita-cita tidak tertanam di dalamnya sebuah ketakwaan, tidak tertanam benih-benih keikhlasan, tidak tertuntun secara agama. Maka, cita-cita meskipun sudah tergapai tidak lain adalah sebuah ruang kosong kehampaan tanpa keberkahan. Sukses dunia dengan akhlak bobrok adalah petaka yang kelak di akhirat harus dipertanggungjawabkan

Maka dari itu wahai putraku, apa pun takdir profesimu kelak tetaplah bercita-cita menjadi orang yang saleh dan bertakwa.

Tanggung jawab kita sebagai orang tua adalah menjadikan anak-anak kita menjadi anak yang saleh, karena mereka adalah investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir walaupun jasad sudah tiada.

Barokallaahu fiikum

jejakme/rusminiummuhuwaida

0Shares
%d blogger menyukai ini: