Jejak Artikel Jejak Literasi

Apa Arti Cinta Bagimu?

Cinta adalah kata yang kerap singgah di telinga, pikiran, dan hati kita. Cinta pada seseorang, keluarga, jabatan, harta, dan sebagainya.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu ; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang -binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).

Banyak cara manusia mengekspresikan rasa cinta. Ada yang rela berkorban apa saja demi mendapatkan cinta bahkan rela menderita karena alasan cinta.

Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Kalimat romantis dari sebuah lagu yang pernah ramai di masanya.

Banyak cinta bertebaran, namun kerap disalah gunakan. Cinta yang tidak pada tempatnya. Cinta berlebihan baik pada seseorang maupun akan sesuatu. Lalu manusia lupa akan anugerah cinta itu sesungguhnya.

Dimensi cinta yang takarannya berlebihan kerap menciptakan rasa baru yang menyakitkan, kecewa, dan putus asa karena sebuah kegagalan akan cinta itu sendiri.

Apa sebab hal tersebut? Tak lain hanyalah cinta yang tidak berlandaskan akan-Nya. Manusia cinta pada hal yang sementara. Kepada manusia, harta, dan tahta. Manusia melupakan satu hal, yakni semua hanyalah titipan-Nya.

Cinta berlebihan pada kefanaan hanya akan menciptakan kerusakan, kebencian pada Sang Khaliq, menjerumuskan jiwa ke dalam keluh dan melupakan syukur akan kesempurnaan diri.

Lantas cinta seperti apakah yang sepatutnya ada?

Yakni cinta yang berdasarkan pada ketaatan kepada Allah. Cinta yang diridhai-Nya. Cinta yang melahirkan amal dan berbuah ibadah.

Inilah cinta sesungguhnya. Cinta hakiki yang mesti ada di hati-hati manusia. Cinta yang menumbuhkan rasa tentram, damai, dan nyaman.

Salah satu hadist dari Abu Hamzah bin Malik menyebutkan bagaimana cinta itu sesungguhnya. Dari Nabi saw bersabda, “tidaklah dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.”

Apakah maksudnya? Kita dituntut untuk lebih peduli, lebih peka dalam hal mengasihi saudara seiman yang didera kesusahan.

Seperti masa sekarang. Pandemi Corona mematikan perekonomian banyak pihak.

Sudahkah hati kita tergerak untuk membantu sesama?

Meringankan beban mereka, membantu mengepulkan asap dapur mereka, mengisi perut-perut kosong mereka yang kebingungan hendak diisi apa berbuka dan sahur nanti.

Kini, Ramadan menjadi bermakna jika cinta kita akan harta tak menutup mata untuk berbagi pada sesama. Cinta kita akan semua nyatanya hanyalah sementara belaka. Mari lantunkan doa sebanyak-banyaknya, berbagi sebaik-baik pemberian.

Hal inilah yang akan menumbuhkan cinta, melahirkan kekuatan, persatuan, dan menyingkirkan penyakit hati.

Aamiin allaahumma aamiin.

Maka, sudahkan kita meletakkan cinta pada tempat yang benar?

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: