Jejak Literasi Puisi

Aku dan Zaman puisi by Walidah Ariyani

Aku dan Zaman
Walidah Ariyani

Lihat gedung itu.
Begitu megah.
Lihat fasilitasnya, lengkap.
Tapi
Gedung itu sepi.
Tak ada anak-anak berlarian menikmati ruangannya.
Tak ada anak-anak duduk di bangku tamannya yang indah.
Tak ada yang membuat guru berteriak
Pun hadir tulisan “jangan coret-coret tembok”
Tak ada suara bola berdentum di ruang olahraganya.
Sepi.
Bagai ruang mayat.

Sejenak aku berpikir.
Untuk apa berlomba memperbesar bangunan.
Memegahkannya.
Jika Tuhan berkata semua tak ada guna sekarang.

Ah, lihatlah cucuran air mata ini!
Ia deras mengalir.

Hanya bayang merah putih berkejaran.
Hanya bayang tangan mungil bersalaman.
Meloncat riang hanya tuk mencium tangan.

Ah, pekik lara ini bila berakhir.
Sedang kutahu keluh tak ada guna.

Inilah sebuah rindu.
Rindu yang tak tahu kan menepi di mana.

Hey, kami bosan!
Anak-anak bosan.
Liburan terlalu lama.
Walau sebenarnya mereka katanya sekolah.

Tak semua anak terfasilitasi.
Daring terkendala materi.
Tak sedikit mereka sendiri ditinggal pergi.
Ayah ibu mencari rezeki.

Ini bukanlah angan siapa pun.
Tapi, kenyataan ini kan terus menjadi nyata.
Dan bisa jadi kan ada lagi hal tak terduga lainnya.

Hal di luar nalar yang tak sempat hadir.
Walau sekejap dalam bayang.

Inilah zaman.
Di mana Tuhan menyatakan kuasa-Nya.
Tak peduli seberapa besar teknologi jumawa.
Kala manusia lupa.
Salahkah Tuhan mengingatkan hamba-Nya?

Kalimantan Barat, 16 Februari 2021

0Shares
%d blogger menyukai ini: