Jejak Literasi Uncategorized

Puisi Walidah Ariyani ; Aku Bunian Terakhir

Pada angin yang merintih riuh cerita.
Menggergaji hening bernama luka.
Dan melarungkannya dalam rintihan jalan setapak.

Lalu tiba pasi melenggang di lengang sunyi.
Merampas sesuatu yang berharga.
Menjelma duri, menepi nikmat.

Mungkin tiada yang tahu lirih perih rasa.
Menggigit sunyi dalam bait-bait ranting tumbang.
Melintas baris batas.
Meluruhkan asa yang gerimis.
Pada rindang pohon jiwa menyendu.
Membingkai larik-larik waktu.
Tangan mendekap rumah kehidupan
Sayang, darah menggumpal bersama hasrat yang menggelepar.

Bertahun lalu, hidup ini damai.
Bercengkerama susuri dedaunan.
Melompat dan bernapas di layar belantara.
Satu-satu ada yang pergi tanpa sandaran.
Menggantung diri dan mengungsi.
Diam-diam cahaya bulan menembus ranting.
Sekarat di rinai jerit yang menyayat.
Bersama sunyi bersimbah rindu.

Apa yang ada di dalam diri mereka.
Semua yang ada terkapar punah abadi.
Teguhkan airmata sekadar upaya.
Membuang keluh dan tangis yang kaku.
Ketika menatap derita, mata memucat tanpa daya.

Aroma puing kematian menguar.
Menggenggam tangan-tangan parau.
Tak terbayang jabang buyut mendendang peri.
Terbakar, terusir, terbunuh.
Seluruh jiwa terhempas tabir takdir.

Di situ kawula bertakhta.
Melipat damai suratan embun.
Membangun doa menyihir senja.

Negeri dikangkangi kepongahan.
Nista membantai cinta.
Dingin.
Sepi.
Sendiri.
Pada akhirnya, aku bunian terakhir.
Yang menggelepar meregang lara.

(Puisi ini saya tulis di Longkali, 20 April 2019 semasa suami masih berdinas di sana)

jejakme/walidahariyani

0Shares
%d blogger menyukai ini: