Jejak Artikel Jejak Literasi

Pelajaran Berharga dari Kakak Beradik Bernasib Malang

Hari ini dalam perjalanan menuju TPA aku tak sengaja menyaksikan anak-anak yang berlarian di sebuah lapangan. Di antara keceriaan mereka kudapati gadis mungil berusia kira-kira 8 tahun dan seorang anak laki-laki bermata sipit, berkulit putih kira-kira berusia 12 tahun.

Hatiku terketuk untuk meratapi kisah dua anak manusia ini, karena mereka sangat kukenali. Kakak beradik bernasib malang, tapi dengan rahmat Allah ada guratan senyum polos di bibir mereka.

Keceriaan hakiki yang entah seberapa banyak luka yang mereka simpan. Kelak memori itu kuat tertanam di dalam ingatan. Namun, kuberharap kelak mereka tetap menjadi orang bersyukur sebagaimana bersyukurnya mereka hari ini.

Allah mengajari mereka dewasa karena alur hidup mengantarkan kegetiran begitu dini di kehidupan mereka. Seorang kakak yang beranjak remaja menitipkan mereka mencari nafkah untuk keluarga.

Mereka terlahir dari ibu yang sama tetapi dengan ayah yang berbeda. Semua pergi mencari kebahagiaan masing-masing. Si ibu menikah lagi, si ayah begitu juga. Entah sampai di mana ujungnya.

Mereka ditelantarkan karena keegoisan orang tuanya. Diurus tapi seperti tak terurus. Hanya ada nenek yang sudah renta. Kadang beliau memanggilku, menyapaku dengan mata berkaca. Aku paham ceritanya tanpa dia berucap sepatah kata pun.

Mereka adalah anak-anak yang tidak banyak mau. Keadaan lebih membuat mereka malu. Mereka bernampilan kucel tapi tak pernah meminta tengadahkan tangan pada si kaya.

Makan sekali sehari saja sudah untung. Tidak mau ngoyo beli jajan ini itu. Apalagi merasakan lezatnya es krim yang bisa dinikmati teman-temannya yang lain kapan saja.

“De, nanti bajunya dicuci ya, bajunya sudah kotor dan bau. Cuci sendiri aja, nggak usah nyuruh-nyuruh nenek,” ucapku kepada si adik ketika tak sengaja berdialog dengannya.

Dia menatapku polos dan menjawab, “nggak ada sabun, Bu.”

Kontan tetesan bening di mataku merembes, mengaliri lensa mata.

Ya, Rabb! Tidakkah selama ini aku masih kurang bersyukur.

Bagaimana tidak menetes air mata ini. Harga diri mereka begitu indah. Manusia yang bermartabat. In syaa Allah dengan ilmu, kelak akan menjadikan mereka orang-orang yang bermanfaat.

Demi Allah. Janganlah kita mencela keadaan sesakit apa pun. Berterimakasihlah kepada-Nya karena bisa jadi keadaan seperti itu yang lebih banyak memberikan pelajaran.

Marilah kita lebih banyak menatap ke bawah, lebih peka dengan realita menyedihkan di depan mata. Kalau bukan orang-orang yang diberikan kelebihan harta untuk membantu mereka maka siapa lagi?

عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ

Bersumber dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallah Alaihi wa Sallam bersabda, “Perhatikanlah orang yang statusnya berada di bawah kalian, dan janganlah kalian memperhatikan orang yang statusnya berada di atas kalian. Dengan begitu, maka kalian tidak akan menganggap kecil nikmat Allah yang kalian terima.”

Wassalam.

jejakme/rusminiummuhuwaida

0Shares
%d blogger menyukai ini: